ISLAM
Ø Adil Gender
Di dalam ayat-ayat Al Qur an maupun hadits nabi yang merupakan sumber
ajaran Islam terkandung nilai-nilai universal yang menjadi petunjuk bagi
kehidupan manusia dulu, kini dan yang akan datang. Nilai-nilai tersebut antara
lain nilai kemanusiaan, keadilan, kemerdekaan, kesetaraan dsb. Berkaitan dengan
nilai keadilan dan kesetaraan, Islam tidak pernah mentolerir adanya perbedaan
dan perlakuan diskriminasi di antara umat manusia. Berikut ini yang diketahui
mengenai kesetaraan gender dalam Al Qur an.
Gender adalah pandangan atau keyakinan yang yang dibentuk masyarakat
tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan atau laki-laki bertingkahlaku
maupun berpikir. Misalnya pandangan bahwa seorang perempuan ideal harus pandai
memasak, pandai merawat diri, lemah lembut atau keyakinan bahwa perempuan
adalah makhluk yang sensitif, emosional selalu memakai perasaan. Sebaliknya
seorang laki-laki sering dilukiskan berjiwa pemimpin, pelindung, kepala rumahtangga,
rasional dan tegas.
Prinsip-prinsip Kesetaraan Gender
Adapun prinsip-prinsip kesetaraan gender ada di dalam Al Qur an yakni:
- Perempuan dan laki-laki sama sebagai hamba
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنسَ إِلا
لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku
tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"
Q.S. Adz Dzariat:56. Laki-laki
dan perempuan mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba yang
ideal yakni sebagai orang yang bertaqwa (mutaqqun).
- Perempuan dan laki-laki sama-sama sebagai khalifah di bumi
Dalam surat Al An am:165 dan Al Baqarah:30
وَهُوَ
الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ
لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ
لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi
dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa
derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya
Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang”.
وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِإِنِّيْ جَاعِلٌ
فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنيُفْسِدُ فِيْهَا
وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ
إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْننُقَدِّسُ لَكَ
“Dan (ingatlah)
tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak
menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah,
padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata
: Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Artinya perempuan dan laki-laki mempunyai fungsi yang sama sebagai
khalifah yang akan mempertanggungjawabkan tugas-tusgas kekhalifahannya di bumi.
- Perempuan dan laki-laki sama-sama menerima perjanjian awal dengan Tuhan
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي
آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ
أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini
Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi
saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Dalam Q.S Al A raaf : 172 yakni laki-laki dan perempuan menyatakan
ikrar yang sama akan keberadaan
Tuhan, tidak ada diskriminasi jenis kelamin.
- Hawa dan adam terlibat secara aktif dalam drama kosmis
- Keduanya diciptakan di syurga dan memanfaatkan fasilitas syurga (Al
Baqarah: 35)
وَقُلْنَا يَا
آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ
شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan
Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan
makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai,
dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang
yang zalim.
- Keduanya mendapat kualitas godaan yang sama dari setan (Al A raaf : 20)
فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ
“Maka
setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada
keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata:
"Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya
kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam
surga)".
- Sama-sama memohon ampun dan diampuni Tuhan (Al A raaf : 23)
قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya
berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika
Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah
kami termasuk orang-orang yang merugi".
Setelah di bumi keduanya mengembangkan keturunan dan saling melengkapi
dan saling membutuhkan (Al Baqarah: 187)
أُحِلَّ
لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ
وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ
أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ
وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ
لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ
أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ
فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ
اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Dihalalkan
bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri kamu. Mereka adalah
pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa
kamu tidak dapat menahan dirimu, karena itu Allah mengampuni dan memaafkan
kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan
Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.
Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah
larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa”
- Perempuan dan laki-laki sama-sama berpotensi meraih prestasi
Q.S Al Imran :195,
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لا أُضِيعُ
عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ
فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي
وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لأكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأدْخِلَنَّهُمْ
جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ
وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman),
"Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara
kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan
dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari
kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang
terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka
ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari
Allah. Di sisi Allah ada pahala yang baik".
مَنْ
عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ
حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا
يَعْمَلُونَ
“Barang
siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan
beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan
Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka
kerjakan”
An Nahl : 97,
Merupakan konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan
prestasi individual dalam bidang spiritual maupun karier profesional yang tidak
didominasi satu jenis kelamin saja.
Ø Bias
gender
Karena adanya implementasi yang salah dari ajaran agama yang disebakan
oleh faktor sejarah, lingkungan budaya dan tradisi yang patriarki di dalam
masyarakat, sehingga menimbulkan sikap dan perilaku individual yang secara
turun temurun menentukan status kaum perempuan dan ketimpangan gender tersebut.
Hal inilah yang kemudian menimbulkan mitos-mitos melalui nilai-nilai dan tafsir
ajaran agama mengenai keunggulan kaum lelaki dan lemahnya kaum perempuan.
Al Qur an tidak mengajarkan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan
sebagai manusia. Di hadapan Allah Swt, laki-laki dan perempuan mempunyai
derajat dan kedudukan yang sama. Oleh
karena itu pandangan-pandangan yang banyak menyudutkan kaum perempuan sudah
selayaknya diubah, karena Al Qur an selalu menyerukan keadilan, keamanan dan
ketentraman, mengutamakan kebaikan dan mencegah kejahatan.
Islam menegaskan bahwa diskriminasi peran dan relasi gender adalah salah
satu pelanggaran hak asasi manusia yang harus dieliminir (An Nisaa:75)
وَمَا لَكُمْ لا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ
يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا
وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela)
orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang semuanya
berdoa, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang
penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami
penolong dari sisi-Mu"
KRISTEN
Ø Adil
gender
` Di dalam alkitab pada Kejadian 1:27 "Maka
Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka" disini
berarti bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan dan laki-laki dengan
derajat yang sama dan menurut gambar Allah, disamping itu juga menekankan bahwa
manusia itu sama hakekat dengan Sang Pencipta. Hal ini berarti bahwa Allah
menciptakan manusia sebagai makluk yang mulia, kudus dan berakal budi, sehingga
manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, dan layak untuk menerima mandat dari
Allah untuk menjadi pemimpin dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan
"Segambar" dengan Allah ini yang berarti dimiliki tidak hanya
laki-laki saja akan tetapi juga perempuan, dan keduanya mempunyai status yang
sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam
bentuk apapun hanya dikarenakan perbedaan jenis kelamin.
Jika
demikian mengapa muncul diskriminasi atau dominasi antara perempuan dan
laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan
perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah
(Kej. 3:12dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa
mempersalahkan ular sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam.
Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang,
tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam
ada bersama Hawa. Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain,
perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada
pada kedua pihak. Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa
menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa. Dalam perkembangan
selanjutnya peran serta perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan
dominasi laki-laki terhadap perempuan. Dalam berbagai peran, perempuan selalu
dibatasi.
Kita lihat
di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki
atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya,
Ia bersikap menentang disriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika
pemimpin-pemimpin agama Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan
berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya perempuan ini dihukum
rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan
mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki
yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: "Barangsiapa yang
tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini". Tidak
ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang
dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11).
Lalu
bagaimana dengan Kesetaraan Gender di dalam kehidupan masa kini ? Saat ini
pemikiran bahwa seorang perempuan hanya mengurus 3M (manak, masak, macak) harus
mulai ditinggalkan, dimulai oleh gerakan emansipasi yang dipelopori oleh
Ibu Kartini. Secara global kesetaraan gender di Indonesia mulai diperjuangkan
oleh R.A Kartini yang lahir di Jepara 21 April 1879. Kita semua tahu bagaimana
beliau memperjuangkan hak kesetaraan dengan mendirikan sekolah wanita. Kini hal
kesetaraan sudah lebih memasyarakat di Indonesia. Kita tidak perlu heran bila
melihat ada pejabat di Republik ini diisi oleh kaum perempuan. Contoh paling
dekat adalah adanya Presiden, bupati Kapolsek dan sebagainya. Profesi lain yang
juga merupakan bukti kesetaraan gender yakni kaum perempuan juga sudah diterima
menjadi Sopir Busway.
Jadi tidak
lah mengherankan bila kita mendapatkan bahwa kaum perempuan mendapatkan
posisi-posisi di masyarakat luas. Apalagi secara politik dalam kelengkapan
persyaratan Partai Peserta Pemilu 2014 yang akan datang diputuskan bahwa harus
ada 30 % kaum perempuan yang masuk sebagai kader partai. Namun demikian,
Kesetaraan Gender tentunya tidak menghapus kodrat perempuan sebagai Ibu atau
Isteri. Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Yesus dengan Kebangkitan
yang disaksikan pertama kali oleh mereka kaum perempuan bukan ingin merubah hal
itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun
sebaliknya
Kaum
perempuan sejak semula diciptakan untuk menerima tugas mulia sebagai pemelihara
pertumbuhan (keturunan). Peran sebagai ibu adalah hal yang menakjubkan. Ibu
dapat melahirkan dan membesarkan anak-anak. Peran Perempuan sebagai ibu telah
masuk ke dalam "rekan sekerja" dengan Bapa kita di Surga untuk
memberikan kasih dan pendidikan kepada kepada anak-anakNya yang juga merupakan
pewaris kerajaan Surga ini.
Anak-anak yang dikaruniakan adalah
berkat dari surga. Dengan demikian seorang ibu melahirkan umat-umat Allah dan
dalam pertumbuhan mereka di dunia ini, mereka ada dalam tanggung jawab seorang
ibu. Bukankah ini tugas mulia?
Sebagai
rekan kerja Allah Bapa disurga, perempuan mempunyai tugas khusus yaitu
memelihara, mendidik anak-anaknya dari masih didalam kandungan sampai sudah
didunia. Tugas itu sangat penting oleh karena itu Allah memilih perempuan untuk
menjalankan tugas tersebut
Amsal 22:6
Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun
ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.
Pada masa
sekarang menghadapi era informasi dimana kedudukan kaum perempuan dibanyak segi
bisa lebih unggul dari kedudukan kaum laki-laki. Dalam hal dimana kedudukan
isteri lebih baik daripada suami memang keadaanya bisa sukar dipecahkan, tetapi
keluarga Kristen tentunya harus memikirkan dengan serius pentingnya peran ibu
rumah tangga demi menjaga kelangsungan keturunan yang ´takut akan Tuhan´
(Maz.78:1-8), dan disinilah pengorbanan seorang ibu perlu dipuji. Dalam hal
seorang ibu berkorban untuk mendahulukan keluarga sehingga bagi mereka karier
dinomor duakan atau dijabat dengan ´paruh waktu´ lebih-lebih selama anak-anak
masih kecil, seharusnya para suami bisa lebih toleran menjadi ´penolong´ bagi
isteri dalam tugas ini.Oleh karena itu apabila dalam hubungan antara perempuan
dan laki-laki tidak ada nya diskriminasi, maka kemungkinan besar kasus
kekerasan dalam rumah tangga akan menurun dan kerukunan baik didalam rumah
tangga maupun dalam masyarakat akan terjalin dengan indah. Seperti ajaran Allah
kepada manusia yaitu "KASIH".
Ø Bias
Gender
Bias
gender masih sangat kental dalam tradisi agama kristiani terutama Nampak pada
perjanjian baru, khususnya naskah-naskah pasca paulus. Padahal, Teologi kesetaraan
gender sudah cukup jelas diungkapkan dalam perjanjian lama. Sebagaimana
diungkapkan Rosemary Radford, guru besar Teologi di Universitas Northwestern di
Evanston-illionis, bahwa “pernyataan penuh semangat yang membenarkan sikap
merendahkan perempuan saat harus dilihat sebagai wujud dari agama Kristen patriakhal pasca Kristen kerakyatan yang
lebih awal”. Ia mengakui bahwa sebenarnya tidak ada ayat-ayat di dalam bible
yang membenarkan untuk merendahkan dalam perempuan.
Pandangan
patriakhal dari agama Kristen ini terjadi karena adanya deduksi terhadap hukum
alam, terutama soal penciptaan alam. Dalam perjanjian lama disebut bahwa:
“kepala dari tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan adalah
laki-laki dan kepala dari Kristus adalah Allah… sebab laki-laki tidak berasal
dari laki-laki”(1 korintus 11:3, 8).
Mayoritas
teolog Kristen menyamakan tatanan sosial
laki-laki (patriarkhis) dengan tatanan yang diciptakan Tuhan atau hukum alam.
Dengan kata lain mereka meyakini bahwa kepemimpinan laki-laki sifat yang
melekat secara natural dan dikehendaki oleh Tuhan. Karena itu menempatkan
perempuan sebagai kelas dua merupakan keharusan dan beragam upaya untuk
menempatkan perempuan setara dengan laki-laki dianggap sebagai perbuatan yang
melanggar ketentuan Tuhan. Bila ini terus dilakukan, maka akan menimbulkan
kekacauan dan moral sosial.
Pandangan
yang menempatkan kepemimpinan laki-laki ini sebagai hukum alam dan merupakan
ketentuan Tuhan berakibat pada adanya keyakinan bahwa Tuhan itu laki-laki.
Kekuasaan Tuhan sebagai sebuah sifat lalu disimbolkan menjadi milik kekuasaan
laki-laki. Ironisnya, cara pandang seperti ini kemudian diterapkan dalam keluarga, keluarga akan mampu
melahirkan tatanan social yang baik, bila dipimpin oleh laki-laki. Dengan
begitu, simbol kekuasaan dalam rumah tangga hanya boleh dimiliki oleh suami
atau ayah dan bukan pada istri atau ibu. Implikasinya, istri harus menjadi
pengikut setia dan taat pada suami, pelengkap bagi suami dan mediator bagi
anak-anak dengan ayahnya. Cara pandang seperti ini menafikan kebebasan
perempuan untuk memilih, dan untuk mandiri. Tragisnya, seorang istri tidak
dibenarkan untuk memberontak atau hidup sendirian, meskipun suaminya seorang
pelaku kekerasan, penjudi, pemabuk, pendosa, dan suka bersikap lalim.
Superioritas
kaum laki-laki seperti ini didasarkan pada teks-teks agama yang nampaknya bias
gender, sebagaimana di ungkapkan dalam alkitab:
“Hai
istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah
kepala istri sama seperti kristus adalah kepalaa jemaat. Dialah yang
menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada kristus,
demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu”(Efesus
5:22-24).
YAHUDI
Ø Adil
gender
Dalam tradisi Yahudi, perempuan di satu sisi digambarkan sebagai mahluk
yang kuat, baik dan sopan, seperti: Batsheba sebagai perempuan yang pandai,
Deborah seorang nabi perempuan, Ruth seorang yang terpandang dan Esther seorang
juru selamat rakyatnya. Namun, dalam tradisi Yahudi juga ditemukan ajaran bahwa
perempuan merupakan asal mula dosa dan juga melalui perempuan manusia akan
mati. Laki-laki harus bekerja dan perempuan harus melahirkan dalam kesakitan.
Perempuan yang sedang menstruasi dan 7 hari selebihnya dianggap kotor dan tidak
suci, bahkan harus disembunyikan di goa-goa gelap atau diasingkan dan
sebagainya. Perempuan yang melahirkan, 33 hari dianggap kotor apabila anaknya
laki-laki. Kalau anaknya perempuan, maka masa tidak sucinya /kotornya menjadi berlipat.
Jika telah selesai masa tidak sucinya, ia harus mencari pendeta untuk membuat
penebusan dosa untuknya. Bahkan dalam Talmud, ada teks doa: “saya
berterimakasih pada-Mu Tuhan, karena tidak menjadikanku perempuan.” Dalam
agama Yahudi, laki-laki mempunyai posisi yang lebih dominan dibandingkan dengan
perempuan. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan gender. Ketika suatu
perbuatan itu dilakukan oleh laki-laki, maka dianggap sebagai suatu kebenaran.
Gender
dalam pandangan Kitab Suci Perjanjian Lama misalnya dalam kaca mata Yahudi
sarat dengan pandangan tentang Allah sebagai Bapa yang mahakuasa, suka marah,
menghukum. Pandangan Allah sebagai Bapa dalam masyarakat Yahudi ini menunjuk
pada dominasi laki-laki, sehingga dasar membuat pranata kehidupan juga atas
dasar pandangan laki-laki. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan dalam
masyarakat yang menggeser perempuan tanpa disadari oleh kaum perempuan itu
sendiri. Pranata kehidupan yang dibuat atas dasar peran laki-laki dianggap
sebagai suatu kebenaran. Perbedaan biologis di antara manusia menjadi objek
dasar pembuatan pranata kehidupan (pandangan seksis). Kitab Kejadian, Keluaran,
I Raja-raja, II Raja-raja, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, dalam Perjanjian
Lama sangat sarat dengan peringatan akan penguasa sewenang-wenang yang membuat
pranata kehidupan tidak manusiawi iniDalam pandangan Yahudi, martabat perempuan
sama dengan pembantu. Mereka menganggap perempuan adalah sumber laknat karena
dialah yang menyebabkan adam diusir dari surga.
Seperti
halnya dalam hukum waris agama Yahudi bahwa anak laki-laki lah yang merupakan
pewaris utama dari orang tuanya. Kalau anak laki-laki ini banyak maka yang
tertua lah yang lebih utama, dan memperoleh warisan dua kali lipat dari bagian
saudara-saudara yang lain. Sedangkan anak perempuan yang belum berumur dua
belas tahun tidak berhak menerima warisan. Dalam hukum perkawinan agama Yahudi
poligami diharuskan dan jumlahnya tidak dibatasi, karena tidak terdapat
larangan dan batasan untuk itu. Kedudukan seorang istri atau anak perempuan
berdasarkan hukum Yahudi adalah lemah sekali. Seorang wanita yang sudah
dikawinkan, menjadi seolah-olah dibeli oleh suaminya dari bapaknya, dan
suaminya menjadi tuannya. Ia tak ubahnya sebagai anak kecil atau burung patah
sayap. Ia tak berhak membeli ataupun menjual. Semua harta bendanya menjadi
milik suaminya. Istri tidak berhak memiliki apa-apa selain maskawin yang
diterimakan kepadanya. Disamping itu, kaum wanita sebagai istri wajib
melakukan semua pekerjaan rumah tangga, baik yang berat maupun ringan.
Kewajiban ini harus dilaksanakan dengan taat. Sementara dalam buku Fundamentalism
and Woman in World Religions, yang diedit oleh Arvind Sharma dan Katherine
K. Young, dijelaskan: As we shall see, women’s roles are a profound symbol
of the extent to which Jewish societies accept—or reject—modernity and
Westernization. (Seperti kita akan lihat, peran perempuan adalah simbol
yang mendalam sejauh mana masyarakat Yahudi menerima atau menolak--modernitas
dan westernisasi). Artinya, dalam masyarakat Yahudi kontemporer justru
perempuan mendapatkan penilaian khusus dengan menjadi sebuah simbol diterima
atau ditolaknya modernitas dan westernisasi.
Dalam
kehidupan Yahudi Kontemporer, keberadaan gender menjadi salah satu kunci
penting untuk memahami peran fundamentalisme, yang berdampak pada konstruksi
identitas perempuan yahudi, budaya yahudi, dan kehidupan perempuan yahudi.
Contemporary social scientists assume that while certain aspect of sexuality
are biologically determined, gender roles are constructed by societies.(Ilmuwan
sosial kontemporer mengasumsikan bahwa sementara aspek-aspek tertentu dari
seksualitas secara biologis ditentukan, peran gender yang dibangun oleh
masyarakat). Dalam upaya membangun tatanan baru dunia, pejuang Feminis Yahudi
dan Kristen, berusaha melakukan koreksi terhadap dominasi laki-laki atas
teologi dan marginalisasi serta eksklusi perempuan dari wilayah agama. Mereka
mengembangkan teologi feminis, sebagaimana yang muncul di Inggris sejak abad
ke-17. Teologi feminis berupaya membaca ulang teks suci dari perspektif
perempuan dan mencari dasar teologis bagi pengakuan harkat dan martabat
perempuan. Dalam Yahudi mempercayai sebuah kepercayaan dasar: bahwa laki-laki
dan wanita adalah ciptaan Tuhan, Pencipta alam semesta. Tetapi, silang sengketa
segera muncul sesudah diciptakan pria pertama Adam, dan wanita pertama, Hawa.
Konsepsi Yahudi dalam hal penciptaan Adam & Hawa iuraikan secara
rinci di dalam kitab PL, Kejadian 2:4-3:24. Yang intinya: Tuhan melarang mereka
memakan buah dari pohon terlarang. Ular datang dan membujuk Hawa untuk
memakannya, dan selanjutnya, Hawa membujuk Adam untuk makan bersamanya. Ketika
Tuhan menegur Adam atas apa yang telah dilakukannya tersebut, Adam meletakkan
kesalahan semua kepada Hawa: "Wanita yang kau berikan kepada saya, dia
memberi buah tersebut kepada saya, lalu saya memakannya." Akibatnya Tuhan
berkata kepada Hawa: "Saya akan menambah kesusahan kepadamu pada waktu
kamu hamil dan pada waktu kamu melahirkan.Hasratmu hanya untuk suamimu dan dia
akan mengatur kamu."
Kepada
Adam, Tuhan berfirman: "Karena kamu mendengarkan apa yang dikatakan
isterimu sehingga kamu mematuhinya dan memakan buah tersebut...saya turunkan
kamu kebumi, kamu akan memakan segala sesuatu yang adadibumi sampai kamu mati..."
Para
Pendeta Yahudi telah memberikan sembilan kutukan yang dibebankan kepada wanita
sebagai hasil dosa Adam & Hawa: "Kepada wanita Tuhan memberikan
sembilan kutukan dan kematian; beban berupa darah menstruasi dan darah
keperawanan, kehamilan, kelahiran, membesarkan anak, penutupan kepala dalam
dalam berkabung, menjadi budak ang melayani tuannya, tidak dipercaya
kesaksiannya, dan setelah itu semua adalah kematian." Hingga saat ini,
orang Yahudi Ortodoks, dalam setiap kali berdo'a mengatakan, "Terimakasih
Kepada Tuhan, Raja Alam Semesta, Yang tidak menjadikan kami seorang
wanita".
Ø Bias
gender
Dalam agama Yahudi, derajat
perempuan sangat rendah. Hal ini sesuai dengan kalimat doa yang tercantum dalam
kitab Talmud yaitu : Saya Berterimakasih Pada-Mu Tuhan, Karena Tidak
Menjadikanku Perempuan.” Selain itu, perempuan dianggap sebagai makhluk yang
terkutuk dan penuh dosa karena telah menyebabkan Nabi Adam diusir dari surga.
Oleh karenanya perempuan dikutuk untuk melahirkan dengan rasa sakit, mengalamii
menstruasi dan sebagainya.
HINDU
Ø Adil
gender
Yo’
sāvatindriya grāhyah suksmo’ vyaktah sanatanah, sarvabhuta mayo’ cintyah sa eva
svayam udbabhau (Ia yang di luar jangkauan pemahaman indra, halus, tak
berwujud, kekal, yang tak terukur, asala mula dari semua ciptaan ini, yang
dimunculkan dari diri-Nya sendiri)
Penciptaan alam dalam hindu dijelaskan bahwa brahma: pencipta alam dipandang sebagai laki-laki sekaligus perempuan. Brahma membagi dirinya menjadi dua, sebagai purusha (pria) dan sebagian yang lain sebagai prakriti (wanita).
Penciptaan alam dalam hindu dijelaskan bahwa brahma: pencipta alam dipandang sebagai laki-laki sekaligus perempuan. Brahma membagi dirinya menjadi dua, sebagai purusha (pria) dan sebagian yang lain sebagai prakriti (wanita).
Hal ini memberi
pengertian lebih jelas bahwa pria dan wanita merupakan emanasi langsung dari
jasad Tuhan sendiri, maka perempuan adalah bagian dari kekuatan Tuhan yang
asli, yang berarti kekuatan Tuhan. Dengan demikian secara esensial, terdapat
kesamaan spiritual antara pria dan wanita. Interaksi yang harmonis antara
purusha dan prakriti menyebabkan terciptanya alam ini.
Ø Bias
gender
Dalam
Veda Samrti Buku IX:17 disebutkan : Sayasanam alankaram kamam krodham
anarjavam. Drobhavam kucaryan ca srtibhyo manur akalpayat. Artinya: ketika
menciptakan mereka Manu telah menetapkan untuk wanita itu sifat senang akan
tempat tidur, akan tempat duduk mereka dan perhiasan, keinginan yang tidak
suci, barang tidak setia, kejam dan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Dalam
Veda Samrti Buku IX:18 disebutkan : Nasti strinam kriya mantrair iti dharmo
vyavasthitih, nirindriya hy amantras ca striyo nrtam iti sthitih. Artinya: tak
ada upacara yang perlu dilakukan dengan mempergunakan mantra suci bagi wanita,
demikianlah telah ditetapkan dalam undang-undang. Wanita kurang akan kekuatan
dan kurang pengetahuan tentang Veda, tidak suci seperti kepalsuan itu, demikian
ketetapan hukum itu.
BUDDHA
Ø Adil
gender
Dalam
kehidupan bermasyarakat, sang Budha tidak membedakan peran laki-laki maupun
perempuan. Mereka memliki peran yang setara dan adil. Seperti laki-laki,
perempuan juga bisa menjadi majikan, atasan, guru(brahmana) sesuai kotbah sang
Budha.
Mengacu
pada perkembangan budha Dharma bahwa pemberdayaan dan kemitrasejajaran
perempuan telah diperjuangkan dan ditumbuhkembangkan oleh sang Budha. Hal ini
dapat dikaji dari kisah-kisah siswa Budha yang sebagian adalah perempuan dan
diterangkan pula bahwa perempuan membawa peran penting dalam perkembangan agama
Budha.
Kesetaraan
gender dalam agama Budha didasari kewajiban dan tanggungjawab bersama dalam
rumah tangga dan adanya kehendak bersama dalam menjalankan kehidupan berumah
tangga. Menurut agama Budha, manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan yang
muncul bersama di muka bumi ini. Dan dia dapat terlahir sesuai dengan karmanya
masing-masing, sehingga kedudukan antara laki-laki maupun perempuan dalam agama
budha tidak dipermasalahkan. Agama Buddha membimbing umatnya untuk menghargai
gender.
Dalam
Paninivana Sutta, sang Budha mengatakan seluruh umat manusia tanpa tertinggal
memiliki jiwa Budha. Laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang agung,
karenanya agar terjadi keseimbangan dalam menjalanjan fungsi kehidupannya, maka
keduanya memiliki karakter yang berlawanan, padahal justru dari sinilah muncul
keseimbangan.
Ø Bias
gender
a. Penolakan
terhadap argumen “setara” dalam Buddhisme.
Dalam agama Budha, kehidupan
dicapai dalam dua komunitas, yaitu komunitas religius dan sekuler. Dalam
komunitas religius, jelas bahwa diskriminasi muncul, yaitu hilangnya hak
perempuan untuk ditahbiskan menjadi bikhuni, seperti pada waktu Sang Budha hidup.
Karena tangga bikhuni dianggap sudah hancur dan tidak pernah bisa didirikan
kembali ketika India dan Srilanka diserang oleh Bangsa Turki dan Holland.
Karena syarat pentahbisan bikhuni dianggap sudah mati, maka kaum perempuan
sudah tidak bisa dioptimasi. Hal ini sudah melawan doktrin dasar Sang Budha
tentang kesetaraan.
Dalam
lapangan sekuler (kehidupan rumahtangga), cacat ini tidak begitu terlihat.
Sehingga ada ilmuwan yang menyatakan kesempurnaan teori Sang Budha karena tidak
menemukan teks-teks yang bersifat metogenis dalam ajaran dasarnya. Maka
seakan-akan, dalam ajaran Sang Budha, kesetaraan gender ini sudah terwujud,
padahal sebenarnya tidak juga.
Hidup
Berkeluarga dalam Agama Budha Jika dalam agama Islam, Kristen, Hindu,
pernikahan dianggap sakral, di dalam agama Budha tidak. Dalam Budha, ordo
apapun, perkawinan semata-mata dianggap urusan duniawi. Oleh karena itu tidak
ada sanksi religius di dalam hubungan suami istri. Jadi kalau laki-laki dan
perempuan merasa cocok, maka tinggal masalah komitmen saja.
Meskipun Sang Budha tidak banyak
berbicara masalah perkawinan, tetapi Sang Budha juga mengajarkan hubungan
keluarga, tentang suami istri yang penuh kasih sayang dan setara. Namun dalam
Budhisme, dalam hubungan keluarga ini yang ditekankan adalah masalah kewajiban
saja, bukan hak dan kewajiban. Hal ini dikarenakan adanya doktrin Anata, tidak
ada aku, tidak ada aku yang berdiri sendiri. Jadi dalam tubuh manusia tidak ada
yang disebut sebagai aku, melainkan hanya elemen.
Dalam
sejarah Budhisme, lima tahun sejak terbentuknya komunitas bikhu sangga, para
kaum laki-laki menjalani hidup suci. Mereka ditahbiskan oleh sang Budha
membentuk suatu komunitas besar yang hidup selibat berpetualang di hutan-hutan,
tidak menetap di vihara. Karena dalam pandangan Budhisme awal bahwa hidup
selibat merupakan cara yang paling efektif untuk mencapai kebebasan tertinggi
yaitu valhala. Dengan adanya kenyataan seperti itu, para perempuan juga
menginginkan hal yang sama.
Dalam
teori hukum karma, kelahiran sebagai perempuan merupakan karma buruk. Sang
Budha merevolusi hukum tersebut dengan penemuan baru teori hukum karma bahwa
laki-laki dan perempuan adalah sama, tidak dibedakan berdasarkan fisik, kelas
kastanya, tetapi dari perbuatan masing-masing. Mendengar ajaran itu, para perempuan
dari suku Satya yang semuanya bangsawan (dimulai dari bibi Sang Budha sendiri
yang menjadi ibu tiri yang membesarkannya, yaitu Mahapati Gotami) dan istri
Sang Budha sendiri, Tias Negara, menghadap kepada Sang Budha dan memohon;
"Sang Budha, alangkah baiknya perempuan juga diperbolehkan untuk menjalani
hidup suci karena kami ingin mencapai kesucian". Sang Budha menjawab;
"Berhati-hatilah dengan keinginanmu itu". Permohonan ini tiga kali
ditolak, hingga para perempuan ini meminta bantuan asisten Sang Budha yaitu
Bikhu Amanda dan ternyata permohonan masih ditolak. Tetapi pada akhirnya
permohonan ini dikabulkan.
Hal yang
ditekankan dalam Budhisme tentang kehidupan berkeluraga adalah kewajiban yang
harus diberikan kepada anggota keluarga lainnya. Mereka berfikir bagaimana
membahagiakan anggota keluarga yang lain daripada berpikir kepentingannya
sendiri.
Namun dalam konteks prilaku, hubungan laki-laki dan perempuan masih dipengaruhi oleh budaya India yang patrialistik. Jadi kalau secara teori kelihatannya agama Budha selangkah lebih maju tetapi ternyata beban kultur patrialistik masih tetap ada. Misalnya; ada teks yang menyatakan bahwa perempuan yang dianggap sebagai istri sempurna adalah perempuan yang bangun lebih dulu dari suaminya, selalu pergi tidur setelah suaminya tertidur, selalu patuh pada suaminya, selalu bersikap ramah dan sopan, dari mulutnya hanya keluar kata-kata ramah dan sopan. Teks-teks minor seperti itu setelah dianalisis oleh feminmis Budhis, terlihat ketidaksesuaian teks-teks tersebut dengan teks-teks yang lain, ketidaksingkronan antara teks-teks dengan spirit ajaran Budha yang egaliter.
Namun dalam konteks prilaku, hubungan laki-laki dan perempuan masih dipengaruhi oleh budaya India yang patrialistik. Jadi kalau secara teori kelihatannya agama Budha selangkah lebih maju tetapi ternyata beban kultur patrialistik masih tetap ada. Misalnya; ada teks yang menyatakan bahwa perempuan yang dianggap sebagai istri sempurna adalah perempuan yang bangun lebih dulu dari suaminya, selalu pergi tidur setelah suaminya tertidur, selalu patuh pada suaminya, selalu bersikap ramah dan sopan, dari mulutnya hanya keluar kata-kata ramah dan sopan. Teks-teks minor seperti itu setelah dianalisis oleh feminmis Budhis, terlihat ketidaksesuaian teks-teks tersebut dengan teks-teks yang lain, ketidaksingkronan antara teks-teks dengan spirit ajaran Budha yang egaliter.
Dalam
aliran Therrawada, dengan hidup selibat, waktu akan terfokus habis untuk
meditasi dan sebagainya. Kalau berkeluarga taanggungjawab akan banyak terbagi
untuk mengurusi pasangannya, untuk mengurus anak, untuk mencari penghasilan
keluarga dan sebagainya. Sementara para bikhu ini dapat hidup dari sokongan
umat, jadi waktu mereka betul-betul terkonsentrasikan untuk meditasi dan
membimbing umat.
Tetapi meskipun demikian, Sang Budha mengatakan bahwa peluang untuk mencapai kesucian antara orang yang hidup berumahtangga dean orang yang hidup selibat adalah sama.
Tetapi meskipun demikian, Sang Budha mengatakan bahwa peluang untuk mencapai kesucian antara orang yang hidup berumahtangga dean orang yang hidup selibat adalah sama.
Menurut beberapa sarjana melihat bahwa sang Buddha merupakan makhluk
hidup dalam budaya tertentu dengan dipengaruhi oleh kebudayaan dimana ia
dibesarkan. Pencapaian Buddha sangat luar biasa dan melebihi para dewa dan
manusia, namun yang masih dipertanyakan disini mengapa sang Budha masih
mengkhawatirkan atas kritikan-kritikan dari masyarakat di masanya? Dari semua
hal yang telah dibahas diatas bahwa ajaran Buddha mendukung adanya gerakan
kesetaraan gender. Tetapi dalam kenyataannya kesetaraan gender belum terjadi
didalam kehidupan sehari-hari para biksuni yang masih dibawah otoritas para
biksu.
KONGHUCU
Ø Adil
gender
Selama
2.500 tahun ajaran Konfusius telah mempengaruhi pemikiran dan perilaku
masyarakat di Cina, Korea, Jepang, dan Vietnam. Penekanan utama ulama perempuan
Asia telah menjadi pemeriksaan ideologi Konfusianisme sejarah dan status saat
ini. Scholar Xiao Ma mengatakan: "Wanita selalu telah berjuang untuk jalan
keluar dari bayang-bayang Konfusianisme."
Meskipun
Cina awal tidak memiliki komitmen nyata untuk subordinasi perempuan, dari waktu
ke waktu ajaran Konfusianisme yang diperluas. Itu selama dinasti Han (206 SM -
220 M) bahwa Konfusianisme diadopsi sebagai doktrin negara pemerintah, dengan
pikirannya menjadi bagian dari pendidikan resmi. Dalam dinasti kemudian,
interpretasi Neoconfucian lebih diperkuat otoritas laki-laki dan adat
patrilineal. Menurut struktur Konfusianisme masyarakat, perempuan pada setiap
tingkat adalah untuk menempati posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Kebanyakan Konghucu menerima sikap tunduk perempuan untuk laki-laki sebagai
alami dan tepat. Pada saat yang sama mereka diberikan kehormatan dan kekuasaan
perempuan sebagai ibu dan ibu mertua dalam keluarga mereka.
Selama
bertahun-tahun seluruh tubuh sastra ditulis, mendidik perempuan tentang
disiplin diri, etika, hubungan dengan mertua, manajemen rumah tangga, kerendahan
hati, dan kesucian. Biografi yang ditulis tentang wanita mengagumkan menekankan
mementingkan diri setia dan rela berkorban kesediaan mereka untuk melakukan apa
pun untuk membantu suami dan keluarganya. Meskipun ideologi adalah satu hal dan
realitas kehidupan perempuan sering lain, bayangan panjang keyakinan dasar
tentang sifat dan peran perempuan memiliki efek yang luas. Kegiatan ini
menawarkan ucapan tradisional yang didasarkan pada interpretasi kepercayaan
Konghucu untuk membantu meningkatkan kesadaran tentang implikasi dari
ucapan-ucapan tersebut pada partisipasi bersejarah perempuan dan status mereka
dalam masyarakat.
Saya mengutip kalimat-kalimat bias
gender ini berasal dari tulisan-tulisan Konfusius terinspirasi, teks moralitas,
dan dari ucapan-ucapan berdasarkan interpretasi kemudian model Konghucu
keluarga
"Tugas seorang wanita adalah
tidak untuk mengontrol atau mengambil alih."
"Tugas terbesar Perempuan
adalah untuk menghasilkan anak laki-laki."
"Seorang wanita penguasa
seperti kokok ayam."
"Seorang suami bisa menikah
dua kali, tapi istrinya tidak pernah harus menikah lagi."
"Kita tidak boleh terlalu
akrab dengan perintah yang lebih rendah atau dengan wanita."
"Wanita dengan bakat adalah
orang yang memiliki manfaat."
"Perempuan harus dipimpin dan
mengikuti orang lain."
"Seorang suami dapat menikah
dua kali, tapi istrinya tidak pernah harus menikah lagi."
Ø Bias
gender
Dalam kitab
agama Konghucu (Mencius III, 2;2) istri yang baik itu adalah istri yang tunduk
dan patuh terhadap printah suaminya, dan istri yang tidak baik adalah istri
yang selalu melanggar perintah suaminya. Jika seorang istri dapat menuruti
perintah suaminya, bukan berarti suami dapat berbuat sekehendak hatinya, namun
suami hendaklah dapat berbuat yang terbaik untuk istrinya. Bagi khanghucu
sebaiknya suami bersikap sebagai seorang kuncu (manusia budiman) yang dapat
menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar