Kamis, 03 Desember 2015

KLASIFIKASI TEKS-TEKS KEAGAMAAN ADIL DAN BIAS GENDER



KLASIFIKASI TEKS-TEKS KEAGAMAAN SADAR DAN BIAS GENDER

ISLAM
Ø  Adil Gender
Di dalam ayat-ayat Al Qur an maupun hadits nabi yang merupakan sumber ajaran Islam terkandung nilai-nilai universal yang menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia dulu, kini dan yang akan datang. Nilai-nilai tersebut antara lain nilai kemanusiaan, keadilan, kemerdekaan, kesetaraan dsb. Berkaitan dengan nilai keadilan dan kesetaraan, Islam tidak pernah mentolerir adanya perbedaan dan perlakuan diskriminasi di antara umat manusia. Berikut ini yang diketahui mengenai kesetaraan gender dalam Al Qur an.
Gender adalah pandangan atau keyakinan yang yang dibentuk masyarakat tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan atau laki-laki bertingkahlaku maupun berpikir. Misalnya pandangan bahwa seorang perempuan ideal harus pandai memasak, pandai merawat diri, lemah lembut atau keyakinan bahwa perempuan adalah makhluk yang sensitif, emosional selalu memakai perasaan. Sebaliknya seorang laki-laki sering dilukiskan berjiwa pemimpin, pelindung, kepala rumahtangga, rasional dan tegas.
Prinsip-prinsip Kesetaraan Gender
Adapun prinsip-prinsip kesetaraan gender ada di dalam Al Qur an yakni:
  1. Perempuan dan laki-laki sama sebagai hamba
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالاِنسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku"
Q.S. Adz Dzariat:56. Laki-laki dan perempuan mempunyai potensi dan peluang yang sama untuk menjadi hamba yang ideal yakni sebagai orang yang bertaqwa (mutaqqun).




  1. Perempuan dan laki-laki sama-sama sebagai khalifah di bumi
Dalam surat Al An am:165 dan Al Baqarah:30
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu Amat cepat siksaan-Nya dan Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.
وَ إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِإِنِّيْ جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيْفَةً قَالُوْا أَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنيُفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَ نَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَ نُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّيْ أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُوْننُقَدِّسُ لَكَ
Dan (ingatlah) tatkala Tuhan engkau berkata kepada Malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah. Berkata mereka : Apakah Engkau hendak menjadikan padanya orang yang merusak di dalam nya dan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ? Dia berkata : Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.
Artinya perempuan dan laki-laki mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah yang akan mempertanggungjawabkan tugas-tusgas kekhalifahannya di bumi.
  1. Perempuan dan laki-laki sama-sama menerima perjanjian awal dengan Tuhan
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Dalam Q.S Al A raaf : 172 yakni laki-laki dan perempuan  menyatakan  ikrar yang sama  akan keberadaan Tuhan, tidak ada diskriminasi jenis kelamin.
  1. Hawa dan adam terlibat secara aktif dalam drama kosmis
- Keduanya diciptakan di syurga dan memanfaatkan fasilitas syurga (Al Baqarah: 35)
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.

- Keduanya mendapat kualitas godaan yang sama dari setan (Al A raaf : 20)

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِنْ سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلا أَنْ تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ
“Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: "Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)".

- Sama-sama memohon ampun dan diampuni Tuhan (Al A raaf : 23)

قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi".
Setelah di bumi keduanya mengembangkan keturunan dan saling melengkapi dan saling membutuhkan (Al Baqarah: 187)
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
“Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri kamu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu, karena itu Allah mengampuni dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beri'tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa”

  1. Perempuan dan laki-laki sama-sama berpotensi meraih prestasi
Q.S Al Imran :195,
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لأكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Di sisi Allah ada pahala yang baik".
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”
An Nahl : 97,
Merupakan konsep kesetaraan gender yang ideal dan memberikan ketegasan prestasi individual dalam bidang spiritual maupun karier profesional yang tidak didominasi satu jenis kelamin saja.

Ø  Bias gender
Karena adanya implementasi yang salah dari ajaran agama yang disebakan oleh faktor sejarah, lingkungan budaya dan tradisi yang patriarki di dalam masyarakat, sehingga menimbulkan sikap dan perilaku individual yang secara turun temurun menentukan status kaum perempuan dan ketimpangan gender tersebut. Hal inilah yang kemudian menimbulkan mitos-mitos melalui nilai-nilai dan tafsir ajaran agama mengenai keunggulan kaum lelaki dan lemahnya kaum perempuan.
Al Qur an tidak mengajarkan diskriminasi antara laki-laki dan perempuan sebagai manusia. Di hadapan Allah Swt, laki-laki dan perempuan mempunyai derajat  dan kedudukan yang sama. Oleh karena itu pandangan-pandangan yang banyak menyudutkan kaum perempuan sudah selayaknya diubah, karena Al Qur an selalu menyerukan keadilan, keamanan dan ketentraman, mengutamakan kebaikan dan mencegah kejahatan.
Islam menegaskan bahwa diskriminasi peran dan relasi gender adalah salah satu pelanggaran hak asasi manusia yang harus dieliminir (An Nisaa:75)
وَمَا لَكُمْ لا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak yang semuanya berdoa, "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu"





KRISTEN

Ø  Adil gender
`     Di dalam alkitab pada Kejadian 1:27 "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka" disini berarti bahwa Allah menciptakan manusia baik perempuan dan laki-laki dengan derajat yang sama dan menurut gambar Allah, disamping itu juga menekankan bahwa manusia itu sama hakekat dengan Sang Pencipta. Hal ini berarti bahwa Allah menciptakan manusia sebagai makluk yang mulia, kudus dan berakal budi, sehingga manusia bisa berkomunikasi dengan Allah, dan layak untuk menerima mandat dari Allah untuk menjadi pemimpin dari segala ciptaan Allah. Dari ungkapan "Segambar" dengan Allah ini yang berarti dimiliki tidak hanya laki-laki saja akan tetapi juga perempuan, dan keduanya mempunyai status yang sama. Oleh karena itu tidak dibenarkan adanya diskriminasi atau dominasi dalam bentuk apapun hanya dikarenakan perbedaan jenis kelamin.
Jika demikian mengapa muncul diskriminasi atau dominasi antara perempuan dan laki-laki? Alkitab mencatat bahwa hubungan yang timpang antara laki-laki dan perempun itu terjadi setelah manusia memakan buah yang dilarang oleh Allah (Kej. 3:12dst). Adam mempersalahkan Hawa sebagai pembawa dosa, sedangkan Hawa mempersalahkan ular sebagai penggoda. Tetapi akhirnya Allah menghukum Adam. Adam dihukum bukan hanya karena Adam ikut-ikutan makan buah yang Allah larang, tetapi juga karena ketika Hawa berdialog dengan ular sampai memetik buah, Adam ada bersama Hawa. Adam hadir di sana tetapi ia bungkam. Dengan kata lain, perbuatan Hawa sebenarnya mendapat restu dari Adam. Karena itu kesalahan ada pada kedua pihak. Itu berarti bahwa Adam dan kaum laki-laki tidak bisa menghakimi Hawa dan kaumnya sebagai pembawa dosa. Dalam perkembangan selanjutnya peran serta perempuan selalu dibatasi, sehingga hal ini yang menciptakan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Dalam berbagai peran, perempuan selalu dibatasi.
Kita lihat di Alkitab yaitu pada masa hidup Yesus, diskriminasi dan dominasi laki-laki atas perempuan masih tetap berlangsung. Ketika Yesus mulai mengangkat tugas-Nya, Ia bersikap menentang disriminasi dan dominasi itu. Suatu ketika pemimpin-pemimpin agama Yahudi menangkap seorang perempuan yang kedapatan berzinah lalu dibawa kepada Yesus. Mereka minta supaya perempuan ini dihukum rajam sesuai aturan Yahudi. Tetapi Yesus tidak peduli terhadap permintaan mereka. Pasalnya, mereka menangkap perempuan itu tapi tidak menangkap laki-laki yang tidur dengan dia. Yesus berkata kepada mereka: "Barangsiapa yang tidak berdosa hendaknya ia yang pertama kali merajam perempuan ini". Tidak ada yang berani melakukannya. Akhirnya Yesus menyuruh perempuan itu pulang dengan nasihat supaya tidak berbuat dosa lagi (Yoh 8:2-11).
Lalu bagaimana dengan Kesetaraan Gender di dalam kehidupan masa kini ? Saat ini pemikiran bahwa seorang perempuan hanya mengurus 3M (manak, masak, macak) harus mulai  ditinggalkan, dimulai oleh gerakan emansipasi yang dipelopori oleh Ibu Kartini. Secara global kesetaraan gender di Indonesia mulai diperjuangkan oleh R.A Kartini yang lahir di Jepara 21 April 1879. Kita semua tahu bagaimana beliau memperjuangkan hak kesetaraan dengan mendirikan sekolah wanita. Kini hal kesetaraan sudah lebih memasyarakat di Indonesia. Kita tidak perlu heran bila melihat ada pejabat di Republik ini diisi oleh kaum perempuan. Contoh paling dekat adalah adanya Presiden, bupati Kapolsek dan sebagainya. Profesi lain yang juga merupakan bukti kesetaraan gender yakni kaum perempuan juga sudah diterima menjadi Sopir Busway.
Jadi tidak lah mengherankan bila kita mendapatkan bahwa kaum perempuan mendapatkan posisi-posisi di masyarakat luas. Apalagi secara politik dalam kelengkapan persyaratan Partai Peserta Pemilu 2014 yang akan datang diputuskan bahwa harus ada 30 % kaum perempuan yang masuk sebagai kader partai.  Namun demikian, Kesetaraan Gender tentunya tidak menghapus kodrat perempuan sebagai Ibu atau Isteri.  Perubahan paradigma yang diletakkan oleh Yesus dengan Kebangkitan yang disaksikan pertama kali oleh mereka kaum perempuan bukan ingin merubah hal itu. Seorang lelaki tidak perlu merubah dirinya menjadi perempuan dan begitupun sebaliknya
Kaum perempuan sejak semula diciptakan untuk menerima tugas mulia sebagai pemelihara pertumbuhan (keturunan). Peran sebagai ibu adalah hal yang menakjubkan. Ibu dapat melahirkan dan membesarkan anak-anak. Peran Perempuan sebagai ibu telah masuk ke dalam "rekan sekerja" dengan Bapa kita di Surga untuk memberikan kasih dan pendidikan kepada kepada anak-anakNya yang juga merupakan pewaris kerajaan Surga ini.
Anak-anak yang dikaruniakan adalah berkat dari surga. Dengan demikian seorang ibu melahirkan umat-umat Allah dan dalam pertumbuhan mereka di dunia ini, mereka ada dalam tanggung jawab seorang ibu. Bukankah ini tugas mulia?
Sebagai rekan kerja Allah Bapa disurga, perempuan mempunyai tugas khusus yaitu memelihara, mendidik anak-anaknya dari masih didalam kandungan sampai sudah didunia. Tugas itu sangat penting oleh karena itu Allah memilih perempuan untuk menjalankan tugas tersebut
Amsal 22:6 Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.
Pada masa sekarang menghadapi era informasi dimana kedudukan kaum perempuan dibanyak segi bisa lebih unggul dari kedudukan kaum laki-laki. Dalam hal dimana kedudukan isteri lebih baik daripada suami memang keadaanya bisa sukar dipecahkan, tetapi keluarga Kristen tentunya harus memikirkan dengan serius pentingnya peran ibu rumah tangga demi menjaga kelangsungan keturunan yang ´takut akan Tuhan´ (Maz.78:1-8), dan disinilah pengorbanan seorang ibu perlu dipuji. Dalam hal seorang ibu berkorban untuk mendahulukan keluarga sehingga bagi mereka karier dinomor duakan atau dijabat dengan ´paruh waktu´ lebih-lebih selama anak-anak masih kecil, seharusnya para suami bisa lebih toleran menjadi ´penolong´ bagi isteri dalam tugas ini.Oleh karena itu apabila dalam hubungan antara perempuan dan laki-laki tidak ada nya diskriminasi, maka kemungkinan besar kasus kekerasan dalam rumah tangga akan menurun dan kerukunan baik didalam rumah tangga maupun dalam masyarakat akan terjalin dengan indah. Seperti ajaran Allah kepada manusia yaitu "KASIH".

Ø  Bias Gender
Bias gender masih sangat kental dalam tradisi agama kristiani terutama Nampak pada perjanjian baru, khususnya naskah-naskah pasca paulus. Padahal, Teologi kesetaraan gender sudah cukup jelas diungkapkan dalam perjanjian lama. Sebagaimana diungkapkan Rosemary Radford, guru besar Teologi  di Universitas Northwestern di Evanston-illionis, bahwa “pernyataan penuh semangat yang membenarkan sikap merendahkan perempuan saat harus dilihat sebagai wujud dari agama Kristen  patriakhal pasca Kristen kerakyatan yang lebih awal”. Ia mengakui bahwa sebenarnya tidak ada ayat-ayat di dalam bible yang membenarkan untuk merendahkan dalam perempuan.
            Pandangan patriakhal dari agama Kristen ini terjadi karena adanya deduksi terhadap hukum alam, terutama soal penciptaan alam. Dalam perjanjian lama disebut bahwa: “kepala dari tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan kepala dari Kristus adalah Allah… sebab laki-laki tidak berasal dari laki-laki”(1 korintus 11:3, 8).
            Mayoritas teolog Kristen menyamakan tatanan sosial laki-laki (patriarkhis) dengan tatanan yang diciptakan Tuhan atau hukum alam. Dengan kata lain mereka meyakini bahwa kepemimpinan laki-laki sifat yang melekat secara natural dan dikehendaki oleh Tuhan. Karena itu menempatkan perempuan sebagai kelas dua merupakan keharusan dan beragam upaya untuk menempatkan perempuan setara dengan laki-laki dianggap sebagai perbuatan yang melanggar ketentuan Tuhan. Bila ini terus dilakukan, maka akan menimbulkan kekacauan dan moral sosial.
            Pandangan yang menempatkan kepemimpinan laki-laki ini sebagai hukum alam dan merupakan ketentuan Tuhan berakibat pada adanya keyakinan bahwa Tuhan itu laki-laki. Kekuasaan Tuhan sebagai sebuah sifat lalu disimbolkan menjadi milik kekuasaan laki-laki. Ironisnya, cara pandang seperti ini kemudian diterapkan  dalam keluarga, keluarga akan mampu melahirkan tatanan social yang baik, bila dipimpin oleh laki-laki. Dengan begitu, simbol kekuasaan dalam rumah tangga hanya boleh dimiliki oleh suami atau ayah dan bukan pada istri atau ibu. Implikasinya, istri harus menjadi pengikut setia dan taat pada suami, pelengkap bagi suami dan mediator bagi anak-anak dengan ayahnya. Cara pandang seperti ini menafikan kebebasan perempuan untuk memilih, dan untuk mandiri. Tragisnya, seorang istri tidak dibenarkan untuk memberontak atau hidup sendirian, meskipun suaminya seorang pelaku kekerasan, penjudi, pemabuk, pendosa, dan suka bersikap lalim.
            Superioritas kaum laki-laki seperti ini didasarkan pada teks-teks agama yang nampaknya bias gender, sebagaimana di ungkapkan dalam alkitab:
“Hai istri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala istri sama seperti kristus adalah kepalaa jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada kristus, demikian jugalah istri kepada suami dalam segala sesuatu”(Efesus 5:22-24).

YAHUDI
Ø  Adil gender
Dalam tradisi Yahudi, perempuan di satu sisi digambarkan sebagai mahluk yang kuat, baik dan sopan, seperti: Batsheba sebagai perempuan yang pandai, Deborah seorang nabi perempuan, Ruth seorang yang terpandang dan Esther seorang juru selamat rakyatnya. Namun, dalam tradisi Yahudi juga ditemukan ajaran bahwa perempuan merupakan asal mula dosa dan juga melalui perempuan manusia akan mati. Laki-laki harus bekerja dan perempuan harus melahirkan dalam kesakitan. Perempuan yang sedang menstruasi dan 7 hari selebihnya dianggap kotor dan tidak suci, bahkan harus disembunyikan di goa-goa gelap atau diasingkan dan sebagainya. Perempuan yang melahirkan, 33 hari dianggap kotor apabila anaknya laki-laki. Kalau anaknya perempuan, maka masa tidak sucinya /kotornya menjadi berlipat. Jika telah selesai masa tidak sucinya, ia harus mencari pendeta untuk membuat penebusan dosa untuknya. Bahkan dalam Talmud, ada teks doa: “saya berterimakasih pada-Mu Tuhan, karena tidak menjadikanku perempuan.” Dalam agama Yahudi, laki-laki mempunyai posisi yang lebih dominan dibandingkan dengan perempuan. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan gender. Ketika suatu perbuatan itu dilakukan oleh laki-laki, maka dianggap sebagai suatu kebenaran.
Gender dalam pandangan Kitab Suci Perjanjian Lama misalnya dalam kaca mata Yahudi sarat dengan pandangan tentang Allah sebagai Bapa yang mahakuasa, suka marah, menghukum. Pandangan Allah sebagai Bapa dalam masyarakat Yahudi ini menunjuk pada dominasi laki-laki, sehingga dasar membuat pranata kehidupan juga atas dasar pandangan laki-laki. Dominasi ini menciptakan ketidakadilan dalam masyarakat yang menggeser perempuan tanpa disadari oleh kaum perempuan itu sendiri. Pranata kehidupan yang dibuat atas dasar peran laki-laki dianggap sebagai suatu kebenaran. Perbedaan biologis di antara manusia menjadi objek dasar pembuatan pranata kehidupan (pandangan seksis). Kitab Kejadian, Keluaran, I Raja-raja, II Raja-raja, Yesaya, Yeremia, Yehezkiel, Hosea, dalam Perjanjian Lama sangat sarat dengan peringatan akan penguasa sewenang-wenang yang membuat pranata kehidupan tidak manusiawi iniDalam pandangan Yahudi, martabat perempuan sama dengan pembantu. Mereka menganggap perempuan adalah sumber laknat karena dialah yang menyebabkan adam diusir dari surga.
Seperti halnya dalam hukum waris agama Yahudi bahwa anak laki-laki lah yang merupakan pewaris utama dari orang tuanya. Kalau anak laki-laki ini banyak maka yang tertua lah yang lebih utama, dan memperoleh warisan dua kali lipat dari bagian saudara-saudara yang lain. Sedangkan anak perempuan yang belum berumur dua belas tahun tidak berhak menerima warisan. Dalam hukum perkawinan agama Yahudi poligami diharuskan dan jumlahnya tidak dibatasi, karena tidak terdapat larangan dan batasan untuk itu. Kedudukan seorang istri atau anak perempuan berdasarkan hukum Yahudi adalah lemah sekali. Seorang wanita yang sudah dikawinkan, menjadi seolah-olah dibeli oleh suaminya dari bapaknya, dan suaminya menjadi tuannya. Ia tak ubahnya sebagai anak kecil atau burung patah sayap. Ia tak berhak membeli ataupun menjual. Semua harta bendanya menjadi milik suaminya. Istri tidak berhak memiliki apa-apa selain maskawin yang diterimakan kepadanya.  Disamping itu, kaum wanita sebagai istri wajib melakukan semua pekerjaan rumah tangga, baik yang berat maupun ringan. Kewajiban ini harus dilaksanakan dengan taat. Sementara dalam buku Fundamentalism and Woman in World Religions, yang diedit oleh Arvind Sharma dan Katherine K. Young, dijelaskan: As we shall see, women’s roles are a profound symbol of the extent to which Jewish societies accept—or reject—modernity and Westernization. (Seperti kita akan lihat, peran perempuan adalah simbol yang mendalam sejauh mana masyarakat Yahudi menerima atau menolak--modernitas dan westernisasi). Artinya, dalam masyarakat Yahudi kontemporer justru perempuan mendapatkan penilaian khusus dengan menjadi sebuah simbol diterima atau ditolaknya modernitas dan westernisasi.
Dalam kehidupan Yahudi Kontemporer, keberadaan gender menjadi salah satu kunci penting untuk memahami peran fundamentalisme, yang berdampak pada konstruksi identitas perempuan yahudi, budaya yahudi, dan kehidupan perempuan yahudi. Contemporary social scientists assume that while certain aspect of sexuality are biologically determined, gender roles are constructed by societies.(Ilmuwan sosial kontemporer mengasumsikan bahwa sementara aspek-aspek tertentu dari seksualitas secara biologis ditentukan, peran gender yang dibangun oleh masyarakat). Dalam upaya membangun tatanan baru dunia, pejuang Feminis Yahudi dan Kristen, berusaha melakukan koreksi terhadap dominasi laki-laki atas teologi dan marginalisasi serta eksklusi perempuan dari wilayah agama. Mereka mengembangkan teologi feminis, sebagaimana yang muncul di Inggris sejak abad ke-17. Teologi feminis berupaya membaca ulang teks suci dari perspektif perempuan dan mencari dasar teologis bagi pengakuan harkat dan martabat perempuan. Dalam Yahudi mempercayai sebuah kepercayaan dasar: bahwa laki-laki dan wanita adalah ciptaan Tuhan, Pencipta alam semesta. Tetapi, silang sengketa segera muncul sesudah diciptakan pria pertama Adam, dan wanita pertama, Hawa. Konsepsi Yahudi dalam hal penciptaan Adam & Hawa  iuraikan secara rinci di dalam kitab PL, Kejadian 2:4-3:24. Yang intinya: Tuhan melarang mereka memakan buah dari pohon terlarang. Ular datang dan membujuk Hawa untuk memakannya, dan selanjutnya, Hawa membujuk Adam untuk makan bersamanya. Ketika Tuhan menegur Adam atas apa yang telah dilakukannya tersebut, Adam meletakkan kesalahan semua kepada Hawa: "Wanita yang kau berikan kepada saya, dia memberi buah tersebut kepada saya, lalu saya memakannya." Akibatnya Tuhan berkata kepada Hawa: "Saya akan menambah kesusahan kepadamu pada waktu kamu hamil dan pada waktu kamu melahirkan.Hasratmu hanya untuk suamimu dan dia akan mengatur kamu."
Kepada Adam, Tuhan berfirman: "Karena kamu mendengarkan apa yang dikatakan isterimu sehingga kamu mematuhinya dan memakan buah tersebut...saya turunkan kamu kebumi, kamu akan memakan segala sesuatu yang adadibumi sampai kamu mati..."
Para Pendeta Yahudi telah memberikan sembilan kutukan yang dibebankan kepada wanita sebagai hasil dosa Adam & Hawa:  "Kepada wanita Tuhan memberikan sembilan kutukan dan kematian; beban berupa darah menstruasi dan darah keperawanan, kehamilan, kelahiran, membesarkan anak, penutupan kepala dalam dalam berkabung, menjadi budak ang melayani tuannya, tidak dipercaya kesaksiannya, dan setelah itu semua adalah kematian." Hingga saat ini, orang Yahudi Ortodoks, dalam setiap kali berdo'a mengatakan, "Terimakasih Kepada Tuhan, Raja Alam Semesta, Yang tidak  menjadikan kami seorang wanita".
Ø  Bias gender
Dalam agama Yahudi, derajat perempuan sangat rendah. Hal ini sesuai dengan kalimat doa yang tercantum dalam kitab Talmud yaitu : Saya Berterimakasih Pada-Mu Tuhan, Karena Tidak Menjadikanku Perempuan.” Selain itu, perempuan dianggap sebagai makhluk yang terkutuk dan penuh dosa karena telah menyebabkan Nabi Adam diusir dari surga. Oleh karenanya perempuan dikutuk untuk melahirkan dengan rasa sakit, mengalamii menstruasi dan sebagainya.

HINDU
Ø  Adil gender
Yo’ sāvatindriya grāhyah suksmo’ vyaktah sanatanah, sarvabhuta mayo’ cintyah sa eva svayam udbabhau (Ia yang di luar jangkauan pemahaman indra, halus, tak berwujud, kekal, yang tak terukur, asala mula dari semua ciptaan ini, yang dimunculkan dari diri-Nya sendiri)
Penciptaan alam dalam hindu dijelaskan bahwa brahma: pencipta alam dipandang sebagai laki-laki sekaligus perempuan. Brahma membagi dirinya menjadi dua, sebagai purusha (pria) dan sebagian yang lain sebagai prakriti (wanita).
Hal ini memberi pengertian lebih jelas bahwa pria dan wanita merupakan emanasi langsung dari jasad Tuhan sendiri, maka perempuan adalah bagian dari kekuatan Tuhan yang asli, yang berarti kekuatan Tuhan. Dengan demikian secara esensial, terdapat kesamaan spiritual antara pria dan wanita. Interaksi yang harmonis antara purusha dan prakriti menyebabkan terciptanya alam ini.
Ø  Bias gender
Dalam Veda Samrti Buku IX:17 disebutkan : Sayasanam alankaram kamam krodham anarjavam. Drobhavam kucaryan ca srtibhyo manur akalpayat. Artinya: ketika menciptakan mereka Manu telah menetapkan untuk wanita itu sifat senang akan tempat tidur, akan tempat duduk mereka dan perhiasan, keinginan yang tidak suci, barang tidak setia, kejam dan perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Dalam Veda Samrti Buku IX:18 disebutkan : Nasti strinam kriya mantrair iti dharmo vyavasthitih, nirindriya hy amantras ca striyo nrtam iti sthitih. Artinya: tak ada upacara yang perlu dilakukan dengan mempergunakan mantra suci bagi wanita, demikianlah telah ditetapkan dalam undang-undang. Wanita kurang akan kekuatan dan kurang pengetahuan tentang Veda, tidak suci seperti kepalsuan itu, demikian ketetapan hukum itu.

BUDDHA
Ø  Adil gender
Dalam kehidupan bermasyarakat, sang Budha tidak membedakan peran laki-laki maupun perempuan. Mereka memliki peran yang setara dan adil. Seperti laki-laki, perempuan juga bisa menjadi majikan, atasan, guru(brahmana) sesuai kotbah sang Budha.
Mengacu pada perkembangan budha Dharma bahwa pemberdayaan dan kemitrasejajaran perempuan telah diperjuangkan dan ditumbuhkembangkan oleh sang Budha. Hal ini dapat dikaji dari kisah-kisah siswa Budha yang sebagian adalah perempuan dan diterangkan pula bahwa perempuan membawa peran penting dalam perkembangan agama Budha.
Kesetaraan gender dalam agama Budha didasari kewajiban dan tanggungjawab bersama dalam rumah tangga dan adanya kehendak bersama dalam menjalankan kehidupan berumah tangga. Menurut agama Budha, manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan yang muncul bersama di muka bumi ini. Dan dia dapat terlahir sesuai dengan karmanya masing-masing, sehingga kedudukan antara laki-laki maupun perempuan dalam agama budha tidak dipermasalahkan. Agama Buddha membimbing umatnya untuk menghargai gender.
Dalam Paninivana Sutta, sang Budha mengatakan seluruh umat manusia tanpa tertinggal memiliki jiwa Budha. Laki-laki dan perempuan memiliki tugas yang agung, karenanya agar terjadi keseimbangan dalam menjalanjan fungsi kehidupannya, maka keduanya memiliki karakter yang berlawanan, padahal justru dari sinilah muncul keseimbangan.

Ø  Bias gender
a.      Penolakan terhadap argumen “setara” dalam Buddhisme.
Dalam agama Budha, kehidupan dicapai dalam dua komunitas, yaitu komunitas religius dan sekuler. Dalam komunitas religius, jelas bahwa diskriminasi muncul, yaitu hilangnya hak perempuan untuk ditahbiskan menjadi bikhuni, seperti pada waktu Sang Budha hidup. Karena tangga bikhuni dianggap sudah hancur dan tidak pernah bisa didirikan kembali ketika India dan Srilanka diserang oleh Bangsa Turki dan Holland. Karena syarat pentahbisan bikhuni dianggap sudah mati, maka kaum perempuan sudah tidak bisa dioptimasi. Hal ini sudah melawan doktrin dasar Sang Budha tentang kesetaraan.
Dalam lapangan sekuler (kehidupan rumahtangga), cacat ini tidak begitu terlihat. Sehingga ada ilmuwan yang menyatakan kesempurnaan teori Sang Budha karena tidak menemukan teks-teks yang bersifat metogenis dalam ajaran dasarnya. Maka seakan-akan, dalam ajaran Sang Budha, kesetaraan gender ini sudah terwujud, padahal sebenarnya tidak juga.
Hidup Berkeluarga dalam Agama Budha Jika dalam agama Islam, Kristen, Hindu, pernikahan dianggap sakral, di dalam agama Budha tidak. Dalam Budha, ordo apapun, perkawinan semata-mata dianggap urusan duniawi. Oleh karena itu tidak ada sanksi religius di dalam hubungan suami istri. Jadi kalau laki-laki dan perempuan merasa cocok, maka tinggal masalah komitmen saja.
Meskipun Sang Budha tidak banyak berbicara masalah perkawinan, tetapi Sang Budha juga mengajarkan hubungan keluarga, tentang suami istri yang penuh kasih sayang dan setara. Namun dalam Budhisme, dalam hubungan keluarga ini yang ditekankan adalah masalah kewajiban saja, bukan hak dan kewajiban. Hal ini dikarenakan adanya doktrin Anata, tidak ada aku, tidak ada aku yang berdiri sendiri. Jadi dalam tubuh manusia tidak ada yang disebut sebagai aku, melainkan hanya elemen.
Dalam sejarah Budhisme, lima tahun sejak terbentuknya komunitas bikhu sangga, para kaum laki-laki menjalani hidup suci. Mereka ditahbiskan oleh sang Budha membentuk suatu komunitas besar yang hidup selibat berpetualang di hutan-hutan, tidak menetap di vihara. Karena dalam pandangan Budhisme awal bahwa hidup selibat merupakan cara yang paling efektif untuk mencapai kebebasan tertinggi yaitu valhala. Dengan adanya kenyataan seperti itu, para perempuan juga menginginkan hal yang sama.
Dalam teori hukum karma, kelahiran sebagai perempuan merupakan karma buruk. Sang Budha merevolusi hukum tersebut dengan penemuan baru teori hukum karma bahwa laki-laki dan perempuan adalah sama, tidak dibedakan berdasarkan fisik, kelas kastanya, tetapi dari perbuatan masing-masing. Mendengar ajaran itu, para perempuan dari suku Satya yang semuanya bangsawan (dimulai dari bibi Sang Budha sendiri yang menjadi ibu tiri yang membesarkannya, yaitu Mahapati Gotami) dan istri Sang Budha sendiri, Tias Negara, menghadap kepada Sang Budha dan memohon; "Sang Budha, alangkah baiknya perempuan juga diperbolehkan untuk menjalani hidup suci karena kami ingin mencapai kesucian". Sang Budha menjawab; "Berhati-hatilah dengan keinginanmu itu". Permohonan ini tiga kali ditolak, hingga para perempuan ini meminta bantuan asisten Sang Budha yaitu Bikhu Amanda dan ternyata permohonan masih ditolak. Tetapi pada akhirnya permohonan ini dikabulkan.
Hal yang ditekankan dalam Budhisme tentang kehidupan berkeluraga adalah kewajiban yang harus diberikan kepada anggota keluarga lainnya. Mereka berfikir bagaimana membahagiakan anggota keluarga yang lain daripada berpikir kepentingannya sendiri.
Namun dalam konteks prilaku, hubungan laki-laki dan perempuan masih dipengaruhi oleh budaya India yang patrialistik. Jadi kalau secara teori kelihatannya agama Budha selangkah lebih maju tetapi ternyata beban kultur patrialistik masih tetap ada. Misalnya; ada teks yang menyatakan bahwa perempuan yang dianggap sebagai istri sempurna adalah perempuan yang bangun lebih dulu dari suaminya, selalu pergi tidur setelah suaminya tertidur, selalu patuh pada suaminya, selalu bersikap ramah dan sopan, dari mulutnya hanya keluar kata-kata ramah dan sopan. Teks-teks minor seperti itu setelah dianalisis oleh feminmis Budhis, terlihat ketidaksesuaian teks-teks tersebut dengan teks-teks yang lain, ketidaksingkronan antara teks-teks dengan spirit ajaran Budha yang egaliter.
Dalam aliran Therrawada, dengan hidup selibat, waktu akan terfokus habis untuk meditasi dan sebagainya. Kalau berkeluarga taanggungjawab akan banyak terbagi untuk mengurusi pasangannya, untuk mengurus anak, untuk mencari penghasilan keluarga dan sebagainya. Sementara para bikhu ini dapat hidup dari sokongan umat, jadi waktu mereka betul-betul terkonsentrasikan untuk meditasi dan membimbing umat.
Tetapi meskipun demikian, Sang Budha mengatakan bahwa peluang untuk mencapai kesucian antara orang yang hidup berumahtangga dean orang yang hidup selibat adalah sama.
Menurut beberapa sarjana melihat bahwa sang Buddha merupakan makhluk hidup dalam budaya tertentu dengan dipengaruhi oleh kebudayaan dimana ia dibesarkan. Pencapaian Buddha sangat luar biasa dan melebihi para dewa dan manusia, namun yang masih dipertanyakan disini mengapa sang Budha masih mengkhawatirkan atas kritikan-kritikan dari masyarakat di masanya? Dari semua hal yang telah dibahas diatas bahwa ajaran Buddha mendukung adanya gerakan kesetaraan gender. Tetapi dalam kenyataannya kesetaraan gender belum terjadi didalam kehidupan sehari-hari para biksuni yang masih dibawah otoritas para biksu.

KONGHUCU
Ø  Adil gender
Selama 2.500 tahun ajaran Konfusius telah mempengaruhi pemikiran dan perilaku masyarakat di Cina, Korea, Jepang, dan Vietnam. Penekanan utama ulama perempuan Asia telah menjadi pemeriksaan ideologi Konfusianisme sejarah dan status saat ini. Scholar Xiao Ma mengatakan: "Wanita selalu telah berjuang untuk jalan keluar dari bayang-bayang Konfusianisme."
Meskipun Cina awal tidak memiliki komitmen nyata untuk subordinasi perempuan, dari waktu ke waktu ajaran Konfusianisme yang diperluas. Itu selama dinasti Han (206 SM - 220 M) bahwa Konfusianisme diadopsi sebagai doktrin negara pemerintah, dengan pikirannya menjadi bagian dari pendidikan resmi. Dalam dinasti kemudian, interpretasi Neoconfucian lebih diperkuat otoritas laki-laki dan adat patrilineal. Menurut struktur Konfusianisme masyarakat, perempuan pada setiap tingkat adalah untuk menempati posisi yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Kebanyakan Konghucu menerima sikap tunduk perempuan untuk laki-laki sebagai alami dan tepat. Pada saat yang sama mereka diberikan kehormatan dan kekuasaan perempuan sebagai ibu dan ibu mertua dalam keluarga mereka.
Selama bertahun-tahun seluruh tubuh sastra ditulis, mendidik perempuan tentang disiplin diri, etika, hubungan dengan mertua, manajemen rumah tangga, kerendahan hati, dan kesucian. Biografi yang ditulis tentang wanita mengagumkan menekankan mementingkan diri setia dan rela berkorban kesediaan mereka untuk melakukan apa pun untuk membantu suami dan keluarganya. Meskipun ideologi adalah satu hal dan realitas kehidupan perempuan sering lain, bayangan panjang keyakinan dasar tentang sifat dan peran perempuan memiliki efek yang luas. Kegiatan ini menawarkan ucapan tradisional yang didasarkan pada interpretasi kepercayaan Konghucu untuk membantu meningkatkan kesadaran tentang implikasi dari ucapan-ucapan tersebut pada partisipasi bersejarah perempuan dan status mereka dalam masyarakat.
Saya mengutip kalimat-kalimat bias gender ini berasal dari tulisan-tulisan Konfusius terinspirasi, teks moralitas, dan dari ucapan-ucapan berdasarkan interpretasi kemudian model Konghucu keluarga
"Tugas seorang wanita adalah tidak untuk mengontrol atau mengambil alih."
"Tugas terbesar Perempuan adalah untuk menghasilkan anak laki-laki."
"Seorang wanita penguasa seperti kokok ayam."
"Seorang suami bisa menikah dua kali, tapi istrinya tidak pernah harus menikah lagi."
"Kita tidak boleh terlalu akrab dengan perintah yang lebih rendah atau dengan wanita."
"Wanita dengan bakat adalah orang yang memiliki manfaat."
"Perempuan harus dipimpin dan mengikuti orang lain."
"Seorang suami dapat menikah dua kali, tapi istrinya tidak pernah harus menikah lagi."
Ø  Bias gender
Dalam kitab agama Konghucu (Mencius III, 2;2) istri yang baik itu adalah istri yang tunduk dan patuh terhadap printah suaminya, dan istri yang tidak baik adalah istri yang selalu melanggar perintah suaminya. Jika seorang istri dapat menuruti perintah suaminya, bukan berarti suami dapat berbuat sekehendak hatinya, namun suami hendaklah dapat berbuat yang terbaik untuk istrinya. Bagi khanghucu sebaiknya suami bersikap sebagai seorang kuncu (manusia budiman) yang dapat menciptakan keharmonisan dalam rumah tangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar