RESPONDING PAPER
ISLAM DAN KESETARAAN GENDER
NITA NURNINGSIH
1113034000144
1.
Gerakan Perempuan Islam dan Pergerakan Ketidak adilanGender di
Mesir
Pergerakan wanita di Timur Tengah dan Asia
ialah suatu gejala abad ke 20. Pergerakan pertama di daerah seperti itu
ditemukan pada awal tahun 90-an sebelum itu pada tahun 1899, seorang ahli hukum
Kairo menerbitkan sebuah buku yang berjudul Emansipasi Wanita. Kedua
kejadian ini menandai perubahan-perubahan yang bersejarah. Nanti perkembangan
pergerakan akan mempercepat jalannya perubahan sosial dan secara vital.
Mempengaruhi masa datang wanita di sebagian besar dunia arab.[1]
Kairo adalah
salah satu potret ikonik revolusi. Mesir adalah potret para lelaki dan
perempuan yang berdiri bersama, bersatu untuk perubahan positif. Namun setelah
itu, perempuan bergulat dengan masalah pelecehan seksual dan dipinggirkan dalam
transisi politik. Akan tetapi, para perempuan
Mesir tidak pernah berhenti berjuang dan kini mereka tengah menemukan
banyak sekutu.
Sebagian orang
berpandangan bahwa demokrasi perlu dicapai lebih dulu sebelum memperhatikan
hak-hak perempuan. Namun, mengatasi marginalisasi perempuan lebih dulu
sebenarnya sangat penting untuk menciptakan Mesir yang benar-benar demokratis.
Masalah intinya bukan saja tentang kesetaraan perempuan dengan laki-laki, namun
juga tentang ketidak adilan. Terlampau sering, perempuan diperlakukan sebagai warga
negara kelas dua dan mendapatkan ketidak adilan, mereka menghadapi pelecehan
dijalanan, menjadi korban tes keperawanan oleh militer, dan tidak diberi banyak kesempatan untuk terlibat dalam
politik. Misalnya, para aktivis hak perempuan tidak diajak musyawarah dalam
proses perancangan konstitusi. Meskipun perempuan bisa secara hukum memegang
posisi seperti hakim atau jabatan tinggi politik, tekana sosial sering kali
membuat perempuan tak bisa memperolehnya
Salah satu cara
untuk benar-banar mewujudkan hak-hak perempuan dalam jangka panjang adalah
menyertakan perempuan dalam semua proses pembuatan keputusan termasuk dalam
merevisi konstitusi. Konstitusi baru mesir harus menyerukan dihilangkannya
diskriminasi berbasis gender bagaimanapun bentuknya. Tahun lalu bahkan,
berbagai kelompok feminis yang bekerja untuk PBB merancang Piagam Perempuan
Mesir, yang bisa menjadi sebuah model bagi konstitusi yang lebih peka Gender
Penting juga
mengigat bahwa al-Ikhwanul al-Muslimin menyertakan banyak anggota perempuan,
Bahkan banyak perempuan dalam al-Ikhwal al-Muslimin menduduki peran paran
penting dalam partai organisasi mereka seperti Hoda Abdel Moneim seorang
pengacara dan ketua komite Urusan perempuan Partai kebebasan dan keadilan.
Banyak perempuan di al-Ikhwal al-Muslimin juga mengelola berbagai program
sosial.
2.
Gerakan Perempuan Islam dan Pergerakan Ketidak adilan Gender di Iran
Stereotipe peran seksual yang ada, mengatakan
bahwa politik adalah dunia laki-laki. Politik selamanya selalu dikaitkan dengan
maskulinitas, sesuatu yang bertentangan dengan feminitas.[2]
Persoalan perjuangan hak-hak perempuan muslim di negara-negara mayoritas Islam, terutama di
Timur tengah dan lebih khusus lagi di Saudi Arabia dan Republik Islam Iran
dapat dijadikan ilustrasi perbandingan dan pertentangan berkaitan dengan
ungkapan-ungkapan paradoksal yang berhubungan dengan patriarki keagamaan di era
modern. Hal itu di pengarubi oleh adanya tekanan dunia internasional dan untu menaikkan citra
pemerintahan Saudi Arabia.
Pemerintahan Saudi Arabia melakukan
kerjasama dengan CEDAW ( The Convention on Elimination of All formsof
Discrimination Againts Women) sebagai bentuk formalitas dan hypocrit
karena masih banyak penerapan yang berindikasikan pada persyaratan yang
berbasis Syari`ah. Adapun resistansi patriarki di Iran lebih halus, tetapi ahli
hukum tradisional tidak mampu menyelesaikan syari`ah
Adapun perempuan Iran bernasib
lebih baik di bandingkan dengan Arab Saudi karena mendapatkan lebih hak-hak
sosial dan politiknya berupa aktivitas dan suara-suara kaum perempuan hadir
dalam tujuh parlemen. Tujuh parlemen ini sebagai tempat posisi dan kekuasaan
patriarkis, serta menjadi benteng pertahanan atas kekuasaannya. Kondisi politik
patriarkis parlemen menjadi hambatan
paling utama bagi perjuangan feminis Islam di Iran
Nahid Mutee mengkritisi feminis
Barat mempertimbangkan persamaan antara
perempuan dan laki-laki, tetapi sejak kultur maskulin adalah dominasi dudalam
suatu sistem patriarkis, Kondisi perempuan menjadi sama dengan laki laki.
Tumbuhnya persamaan tersebut
berimplikasi pada revolusi nilai, seperti homo seksual, biseksual, dan keluarga
yang destruktif.
3.
Gerakan Perempuan Islam dan Pergerakan Ketidak adilan Gender di Turki
Selama berapa dekade di Turki,
Perjuangan dan pertarungan antara kekuatan Islam dan sekuleris berlangsung
sangat keras. Sampai perlahan –lahan Erdogan memenangkan pertarungan melawan kaum
sekuleris, yang diwakili oleh militer. Bagunanan sekulerisme yang terstruktur
dalam bentuk kekuasaan, dibangun oleh Kemal Attaturki, sudah berlangsung sejak
tahun 1924, bersamaan dengan keruntuhan Khalifah Utsmaniyah. Keruntuhan turki
Utsmani itu, diformalkan oleh Jendral Kemal Attaturki kedalam konstitusi, yang
secara tegas menyatakan Turki sebagai negara sekuler, bukan negara agama. Islam
tidak lagi menjadi sumber hukum bagi kehidupan
bernegara.
Perjuangan pertarungan antara
kalangan Islamis melawan sekuleris, yang berlangsung selama beberapa dekade
itu, baru mencapai puncaknya, ketika Erdogan dengan partai AKP, membangun
kekuatan entitas politik di Turki. Ebdogan seperti membangun kembali
puing-puing reruntuhan khalifah Utsmaniyah dan mulai menampakkan wujudnya.
Turki dibawah Erdogan, seorang muslim yang taat, kini berubah total.
Sekulerisme mulai digerus dan nilai- nilai Islam mulai tampak temaram. Seperti
yang dituturkan oleh seorang pelancong dari Indonesia, baru saja meninggalkan turki.
Turki benar benar berubah. Bukan hanya kota-kota diTurki yang sangat bersih dan
teratur, tetapi rakyat turki jauh lebih makmur dibandingkan ketika masih hidup
dibawah kaum sekuleris. Ekonomi Turki terbesar keempat di Eropa tak terpengaruh
oleh krisis zona Eropa. Ekonominya tumbuh 5 persen dan angka inflasi kurang
dari dua digit. Income perkapita rakyatnya sudah diatas 5000 dollar.
Perdagangan dengan negara-negara Eropa, Asia, dan Timur Tengah, Terus mengalami
surplus.
Turki yang sangat modern dan maju
Ekonomi, dan kehidupan rakyatnya sudah menyamai negara-nagara di Zona Eropa,
Kini menjadi salah satu negara yang mengenakan pajak tertinggi didunia terhadap
alkohol dan rokok. Jadi tidak sembarangan orang bisa minum dan merokok di
Turki. Orang yang mreminum dan merokok harus benar-benar orang kantongnya
tebal. Inilah cara melarang pemerintahan Turki terhadap alkohol dan rokok. Akan
tetapi kontra terus bergulir, kekuatan
sekularisme masih ada, sudah kehilangan kekuasaannya, tetapi masih memiliki
pijakan dan kontriksi.
Sekulerisme masih memiliki akar
sejarah, yang diletakkan oleh Kemal Attaturk dan menampakkan kegagalannya di
Turki, serta mulai redup bersamaan dengan tumbuhnya kekuatan Islam di Turki, yang perlahan-lahan maju
menggantikan sistem yang bertententangan dengan nilai-nilai Islam. Dikabarkan
bahwa wacana publik atas isu pemakaian jilbab mencerminkan suatu perjuangan
internal demokratis atas kebebasan individu. Seperti diketahui mengenai masalah
ini, Turki merupakan negara
terpolarisasi dua kelompok yang berkepentingan
atas kontroversi jilbab antara kelompok muslim dan sekularis. Muslim
berpendapat bahwa mengenakan jilbab adlah hak manusia dan kewajiban agama dan
beberapa sekularis melihat jilbab sebagai politik provokatif, simbol
ekstremisme dan tanda ``islamisasi`` masyarakat turki.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar