RESPONDING PAPER
ISLAM DAN KESETARAAN GENDER DI KALANGAN MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA
NITA NURNINGSIH
1113034000144
A.
Negara dan Ideologi ibuisme masa orde lama dan orde baru
1.Masa
Orde lama
Organisasi
Wanita masa Pergerakan Nasional
Adapun organisasi-organisai wanita yan berdiri pada masa pergerakan
nasional yaitu:
1.
Putri
mardika ( 1912 )
Putri mardika
adalah organisasi keputrian tertua dan merupakan bagian dari budi utomo,
tujuannya adalah untuk memberi bantuan, bimbingan dan penerangan kepada
wanita-wanita pribumi dalam menuntut pelajaran dan dalam memyatakan pendapat di
muka umum. Adapun kegiatannya sebagai berikut memberi beasiswa dan menerbitkan
majalah bulanan, tokoh tokohnya antara lain: P.A. Sabarudin, R.A
SutinahJoyopranoto, R.R. Rukmini, dan Sadikun Tondokukuno.
2.
Kartini
Fonds ( Dana Kartini )
Organisasi ini
didirikan oleh Tuan dan Nyonya C. Th Van Deventer, tokoh politik etis.
Salah satu usahanya adalah mendirikan sekolah- sekolah, misalnya: Sekolah
kartini di Jakarta, Bogor, Semarang ( 1913 ), setelah itu dimadiun (1914 ),
Malang dan Cirebon ( 1916), Pekalongan (1917), Surabaya dan Rembang.
3.
Kautamaan
Istri
Organisasi ini berdiri sejak tahun1904 di Bandung, yang didirikan
oleh R. Dewi Sartika. Pada tahun 1910 didirikan sekolah Keutamaan Istri
dengan tujuan mengajar anak gadis agar mampu membaca, menulis, berhitung, punya
keterampilan kerumah tanggaan agar kelak menjadi ibu rumah tangga yang baik.
Kegiatan ini mulai diikuti oleh kaum wanita dikota kota lain yaitu: Tasikmalaya, Garut,Purwakarta, Padang
panjang.
4.Kerajinan Amal Setia ( KAS )
6KAS didirikan di
Kota Gadang Sumatra Barat oleh Rohana Kudus tahun 1914. Tujuannya adalah
untuk meningkatkan pendidiukan wanita, dengan mengajarkan cara-cara mengatur
rumah tangga, membuat barang-barang kerajinan tangan beserta cara pemasarannya.
Pada tahun itu juga, KAS berhasil mendirukan sekolah wanita pertama di Sumatera
sebelum terbentuknya Diniyah putri di padang panjang.
5.Aisyiah (1917)
Aisyiah didirikan
pada tanggal 22 April 1917 dan merupakan bagian dari Muhammadiyah. Pendirinya
adalah H. Siti Walidah Ahmad Dahlan. Kegiatan utamanya adalah memajukan
pendidikan dan keagamaan bagi kaum wanita, memelihara anak yatim, dan
menanamkan rasa kebangsaan lewat kegiatan organisasi agar kaum wanita dapat
mengambil peranan aktif dalam pergerakan nasional.
6.Percintaan Ibu kepada anak Turunannya ( PIKAT )
PIKAT didirikan pada bulan Juli 1917 oleh Maria
Walanda Maramis. Dimenado, Sulawesi Utara. Tujuannya memajukan pendidikan kaum
wanita dengan cara mendirikan sekilah- sekolah rumah tangga 1918 sebagai calon
pendidik anak anak perempuan yang telah tamat Sekolah Rakyat. Didalamnya
diajari cara-cara mengatur rumah tangga yang baik, keterampilan, dan menanamkan
rasa kebangsaan.
7.Organisasi Kewanitaan Lain
Organisasi Kewanitaan
Lain yang berdiri cukup banyak antara lain Pawiyatan Wanita di Magelang 1915,
Wanita Susila di Pemalang 1918, Wanita Rukon Santoso di Malang, Budi Wanita di
solo, Putri Budi Sejati di surabaya 1919, Wanita Mulya di Yokyakarta 1920,
Wanita Katolik di Yogyakarta 1921, PMDS putri 1923, Wanita taman Siswa 1922,
dan Putri Indonesia 1927.
8.Kongres perempuan Indonesia
Pada tanggal 22-25
Desember 1928 di Yogyakarta diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia
Pertama. Kongres tersebut di prakarsai oleh berbagai organisasi wanita seperti:
Budi Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Wanita Mulya, Aisyiah, SI, JIB,
dan Taman Siswa bagian Wanita. Tujuan kongres ini mempersatukan cita-cita dan
usaha untuk memajukan wanita indonesia, dan juga mengadakan gabungan antara
berbagai perkumpulan wanita yang ada.
Dalam kongres itu diambil keputusan untuk mendirikan gabungan
perkumpulan wanita yang disebut Perikatan Perempuan Indonesia dengan tujuan:
a.
Memberi
penerangan dan perantaraan kepada kaum perempuan, akan mendirikan studie
fond untuk anak –anak perempuan yang tidak mampu
b.
Mengadakan
kursus kursus kesehatan
c.
Menentang
perkawainan anak-anak
d.
Memajukan
kepanduan untuk organisasi-oranisasi wanita tersebut diatas. Pada umumnya tidak
mencampuri urusan politik dan perjuangan dengan haluan kooperatif. [1]
2. Masa Orde baru
Tampilnya
soeharto sebagai presiden kedua menggantikan soekarno menyusul terjadinya
pemberontakan PKI 1965 dan gerakan mahasiswa anti soekarno tahun 1966 mempunyai
makna tersendiri baik yang bersifat positif mau pun negatif terhadap perjuangan
perempuan. Ada beberapa fenomena positif
yang bisa di catat pertama adalah di keluarkannya UU perkawinan
tahun 1974. Undang –undang ini, meskipun mengatur pegawai negeri, merupakan
simbol dari keberpihakan negara terhadap perempuan, yaitu melakukan pembatasan
secara ketat terhadap pegawai negeri laki-laki yang ingin melakukan poligami.
UU yang pada awalnya ditentang oleh kalangan politisi islam ini merupakan
langkah maju penting menuju pada kesetaraan hubungan laki-laki dan perempuan.
Kedua, adalah
dibentuknya Kementerian Muda urusan Peranan Wanita pada Kabinet Pembangunan 1974.Kementerian
ini dalam perkembangannya mengalami beberapa perubahan nama, menjadi Menteri
Negara Urusan Peranan Wanita, dan terakhir manjadi mentri Negara Pemberdayaan Perempuan.[2]
B.
Peran gerakan perempuan
Muslim dalam memperjuangkan kesetaraan gender masa
Reformasi
Setelah tumbangnya Rezim Orde Baru yang
terkubur bersama Ideologinya. Munculkan NGO-NGOyang memperjuangkan kepentingan
masyarakat kelas bawah sebagai akibat krisis moneter. Dimulai dari NGO yang
menginformasikan dampak krisis dan daya tahan masyarakat terhadap krisis yaitu
SMERU (Social Monitoring and Early Respons Unit). Terdapar juga aliansi
kelompok miskin kota dengan nama Forum Miskin Kota ( FMK )yang memperjuangkan
kepentingan kelompok miskin yang hilang harapan akibab krisis. Dikalangan
mahasiswa terdapat perjuangan politik melalui organisasi mereka dengan nama
Forum Kota ( Forum Kota ) yang menjadikan jalanan sebagai gedung parlemen.
Berdiri juga NGO perempuan yang memperjuangkan
kepentingan perempuan terkait dengan, perlindungan, pemberdayaan, rehabilitas
dan aksi dalam kehidupan dirumah maupun di luar rumah seperti Pusat
Pengembangan Sumberdaya Wanita (PPSW)
dan cabangnya di berbagai kota. Terdapat juga Kesuma (YPM-Kesuma) yang bergerak dalam pemberdayaan kelompok
marjinal dan pedagang informal di perkotaan antara lain di Jakarta dan bandung.
Di Kota/Kabupaten Bogor yaitu Prastita
(PPPA) yang memberikan rehabilitas bagi korban kekerasan dalam rumah tangga dan
pendampingan baik secara hukum maupun
psikososial terhadap korban.Dibidang gerakan demokrasi, desentralisasi
dan otonomi daerah terdapat aliansi 17 NGO ( From NGO 17+) dari berbagai kota
di Indonesia yang mengembangkan inisiative daerah untuk menciptakan tata kelola
pemerintahan yang baik di bidang penanganan anak dan perempuan terdapat lebih
dari 20 NGO yang tergabung dalam Indo-Act yang berjuang melayani anak dan
perempuan sebagai korban kekerasan, diskriminasi dan penelantaran.
C. Agenda Gerakan Perempuan Muslim ke Depan
D. Pencapaian kaum perempuan Indonesia dewasa ini diberbagai
bidang tak lepas dari peran Kartini selama hidupnya. Berbagai upaya untuk
merevitalisasi cita-cita dan semangat Kartini dalam memajukan kaum perempuan Indonesia
– Dharma Wanita Persatuan Pusat bekerja sama dengan United Nations millenium
menyelenggarakan serangkaian acara untuk memperingati Hari Kartini, 21 April
mendatang. Ketua umum PP Salimah Nurul Hidayati S.S M.BA menghadiri
pertemuan pada Jumat, 12 maret 2010 di Gedung Dharma Wanita Persatuan Pusat
dalam rangka persiapan Hari Kartini 2010. Thema
yang diusung peringatan Hari Kartini adalah ‘Perempuan Menatap ke Depan”.
“Kami harapkan tidak bersifat seremonial belaka, tetapi merupakan momentum bagi
upaya – upaya pengembangan program – program kerja nyata yang berkesinambungan
bagi pencapaian MDGs di Indonesia,” kata Nila F.Moeloek yang didampingi Niniek
L. Karim dan Dewi Motik . Pelaksaaan nya akan merupakan suatu kegiatan
kolaboratif antar semua elemen masyarakat, khususnya perempuan, dalam mendukung
upaya-upaya tercapainya suatu masyarakat yang berpengetahuan, independen dan
sejahtera. Salimah menjadi salah satu ormas yang turut serta.
Adapun tujuan dari rangkaian
kegiatan ini adalah:
1. Memanfaatkan momentum Hari
Kartini sebagai apresiasi kepada perempuan di masa kini
2. Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya
peran perempuan dalam mencapai tujuan-tujuan MDGs
Secara khusus Nila MF Moeloek
menyatakan bahwa banyak kelompok perempuan yang telah berbuat di tengah
masyarakat, menjadi motivator bagi kaum perempuan di sekitarnya, beliau pun
mengakui langkah Salimah yang dikatakan banyak memberikan edukasi di tengah
kaum perempuan khususnya di kalangan majelis taklim. Dalam kesempatan tersebut
Nurul Hidayati menyatakan Salimah siap untuk mensukseskan gerakan memperingati
Hari Kartini dengan terlibat dalam gerakan bersama Perempuan Menatap Masa
Depan. Semua kegatan para pengurus Salimah di seluruh Indonesia di
majelis taklim maupun di kelompok-kelompok pemberdayaan ekonomi
binaan Salimah akan diarahkan khusus untuk mensosalisasikan
issue-isue terkait pemberdayaaan perempuan, pengokohan keluarga dan
perlindungan anak dalam kerangka mensukseskan pencapaian MDGs. Salimah
tengah berpartisipasi dalam aktivitas tersebut yang diberi istilah
oleh panitya sebagai “street class” atau kelas terbuka yang
diselenggarakan secara mandiri oleh masyarakat dengan minimum peserta sekitar
sepuluh orang. Salimah telah sangat akrab dengan kegiatan-kegiatan memotivasi
kaum perempuan dalam berbagai forum seperti majelis taklim yang dihadiri oleh
sekitar tiga puluh sampai seratus orang kaum ibu. Sebagian besar pengurus
Salimah adalah para motivator atau yang dikenal dengan istilah Ustadzah.
Salmah pun sering melakukan pelatihan-pelatihan bagi tokoh-tokoh majelis
taklim dalam mensosialisasikan issue-isue kontemporer terkat pemberdayaan
perempuan, pengokohan keluarga dan perlindungan anak. Sehingga di forum
majelis taklm yang begitu akrab dengan kaum perempuan Indonesia dapat menjadi
sarana pembelajaran semua hal yang dibutuhkan kaum perempuan.
Pimpinan Pusat Salimah menyerukan
kepada seluruh pengurus Salimah dan Para Ustazah di seluruh Indonesia untuk
turut mensukseskan kelas-kelas terbuka dalam format majelis taklim untuk
mensosialsasikan pencapaian MDGs yang disajikan dalam ceramah-ceramah dan
pelatihan-pelatihan dengan pilihan tema sebagai berikut :
1. Islam
memuliakan Perempuan
2. Islam
menghargai dan melindungi anak-anak termasuk anak perempuan
3. Islam
mengajarkan hidup teratur, terencana,produktif dan hemat / kecerdasan
financial
4. Rosululloh
mengajarkan jiwa wirausaha
5. Pentingnya kaum ibu memilki
ketrampilan-ketrampilan yang menghasilkan (dan prakteknya seperti pelajaran
membuat kue, handy craft, dll)
6. Islam mengajarkan kebersihan dan kesehatan
7. Menjaga
kehamilan dan masa penyusuan dengan sehat
8. Pentingnya menyusui bayi selama dua
tahun sesuai arahan Al Qur’an
9. Islam
agama yang ramah lingkungan ( Dalil-dalil syar’I terkait penjagaan lingkungan)
10. Kaum Ibu dengan Pola hidup Ramah lingkungan
(disertai praktek mengelola sampah)
11. Pentingnya Tanaman Obat Keluarga (disertai
praktek menanam dan mengolah herba)
12. Pentingnya Makanan Sehat dan pola
Hidup Sehat
13. Pendidikan Anak dalam Islam
14. Pentingnya Pola Asuh yang baik
untuk masa depan anak
15. Islam memuliakan orang yang
belajar dan mengajar Ilmu
16. Pentingnya Membaca dalam
meningkatkan kwalitas Kehidupan
17. Nasehat Nabi agar umat
Islam Belajar Seumur Hidup
18. Pencegahan penyalahgunaan Narkoba
oleh orangtua
19. Ancaman Narkoba bagi generasi
muda Indonesia, fakta dan data.
20. Berbagai kegiatan / ketrampilan yang
menunjang.
Insya Allah, seluruh pengurus di
Pimpinan pusat maupun Pimpinan wilayah di 30 provinsi serta Pimpinan Daerah di
289 kota kabupaten serta pimpinan cabang di
empat kecamatan akan berpartisipasi dalam gerakan ” Perempuan Menatap Ke
Depan” dengan program Street class atau kelas terbuka selama bulan April 2010
sebanyak kurang lebih tiga ribu kelas di seluruh Indonesia. Terlepas dari
berbagai soal yang bakal muncul dengan pilihan di atas, gerakan perempuan
memang sudah saatnya untuk masuk kembali dalam gerakan sosial yang lebih luas,
sehingga keberadaannya akan mampu secara substansial melakukan
perubahan-perubahan sosial di Indonesia. Sebuah perubahan yang mengandaikan adanya situasi
demokratis yang adil dan damai bagi semua, seperti yang juga disepakati bersama
oleh peserta refleksi. Hanya, tetapi muncul kesadaran, di sana tidak harus
terjadi keseragaman, sehingga gerakan perempuan tetap mengakui adanya
pluralitas gerakan ataupun kemajemukan pilihan strategi dan pendekatan. Strategi gerakan
perempuan yang demikian, merupakan upaya untuk membawa gerakan perempuan dalam
kerja-kerja yang lebih sistematis, menggeser kerja-kerja yang berbasis pada
pelayahan dan pendidikan (service and education)
menuju pada bentuk gerakan sosial yang lebih luas dan lebih bermakna bagi
gerakan perubahan sosial di Indonesia. Menghapuskan dikotomis antara gerakan
strategis dan gerakan pragmatis, seperti yang terkotakkan selama ini.[3]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar