Minggu, 03 Januari 2016

RESPONDINGP PAPER ISLAM DAN KESETARAAN GENDER DIKALANGAN MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA NITA NURNINGSIH 1113034000144

RESPONDING PAPER
ISLAM DAN KESETARAAN GENDER DI KALANGAN MASYARAKAT MUSLIM INDONESIA
NITA NURNINGSIH
1113034000144
A.    Negara dan Ideologi ibuisme masa orde lama dan orde baru
1.Masa Orde lama   
           Organisasi Wanita masa Pergerakan Nasional
Adapun organisasi-organisai wanita yan berdiri pada masa pergerakan nasional yaitu:
1.      Putri mardika ( 1912 )
           Putri mardika adalah organisasi keputrian tertua dan merupakan bagian dari budi utomo, tujuannya adalah untuk memberi bantuan, bimbingan dan penerangan kepada wanita-wanita pribumi dalam menuntut pelajaran dan dalam memyatakan pendapat di muka umum. Adapun kegiatannya sebagai berikut memberi beasiswa dan menerbitkan majalah bulanan, tokoh tokohnya antara lain: P.A. Sabarudin, R.A SutinahJoyopranoto, R.R. Rukmini, dan Sadikun Tondokukuno.
2.      Kartini Fonds  ( Dana Kartini )
             Organisasi ini didirikan oleh Tuan dan Nyonya C. Th Van Deventer, tokoh politik etis. Salah satu usahanya adalah mendirikan sekolah- sekolah, misalnya: Sekolah kartini di Jakarta, Bogor, Semarang ( 1913 ), setelah itu dimadiun (1914 ), Malang dan Cirebon ( 1916), Pekalongan (1917), Surabaya dan Rembang.
3.      Kautamaan Istri
Organisasi ini berdiri sejak tahun1904 di Bandung, yang didirikan oleh R. Dewi Sartika. Pada tahun 1910 didirikan sekolah Keutamaan Istri dengan tujuan mengajar anak gadis agar mampu membaca, menulis, berhitung, punya keterampilan kerumah tanggaan agar kelak menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kegiatan ini mulai diikuti oleh kaum wanita dikota kota lain  yaitu: Tasikmalaya, Garut,Purwakarta, Padang panjang.
4.Kerajinan Amal Setia ( KAS )
            6KAS didirikan di Kota Gadang Sumatra Barat oleh Rohana Kudus tahun 1914. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pendidiukan wanita, dengan mengajarkan cara-cara mengatur rumah tangga, membuat barang-barang kerajinan tangan beserta cara pemasarannya. Pada tahun itu juga, KAS berhasil mendirukan sekolah wanita pertama di Sumatera sebelum terbentuknya Diniyah putri di padang panjang.
5.Aisyiah (1917)
          Aisyiah didirikan pada tanggal 22 April 1917 dan merupakan bagian dari Muhammadiyah. Pendirinya adalah H. Siti Walidah Ahmad Dahlan. Kegiatan utamanya adalah memajukan pendidikan dan keagamaan bagi kaum wanita, memelihara anak yatim, dan menanamkan rasa kebangsaan lewat kegiatan organisasi agar kaum wanita dapat mengambil peranan aktif dalam pergerakan nasional.
6.Percintaan Ibu kepada anak Turunannya ( PIKAT )
              PIKAT  didirikan pada bulan Juli 1917 oleh Maria Walanda Maramis. Dimenado, Sulawesi Utara. Tujuannya memajukan pendidikan kaum wanita dengan cara mendirikan sekilah- sekolah rumah tangga 1918 sebagai calon pendidik anak anak perempuan yang telah tamat Sekolah Rakyat. Didalamnya diajari cara-cara mengatur rumah tangga yang baik, keterampilan, dan menanamkan rasa kebangsaan.
7.Organisasi Kewanitaan Lain
        Organisasi Kewanitaan Lain yang berdiri cukup banyak antara lain Pawiyatan Wanita di Magelang 1915, Wanita Susila di Pemalang 1918, Wanita Rukon Santoso di Malang, Budi Wanita di solo, Putri Budi Sejati di surabaya 1919, Wanita Mulya di Yokyakarta 1920, Wanita Katolik di Yogyakarta 1921, PMDS putri 1923, Wanita taman Siswa 1922, dan Putri Indonesia 1927.
8.Kongres perempuan Indonesia
           Pada tanggal 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia Pertama. Kongres tersebut di prakarsai oleh berbagai organisasi wanita seperti: Budi Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Wanita Mulya, Aisyiah, SI, JIB, dan Taman Siswa bagian Wanita. Tujuan kongres ini mempersatukan cita-cita dan usaha untuk memajukan wanita indonesia, dan juga mengadakan gabungan antara berbagai perkumpulan wanita yang ada.
Dalam kongres itu diambil keputusan untuk mendirikan gabungan perkumpulan wanita yang disebut Perikatan Perempuan Indonesia dengan tujuan:
a.      Memberi penerangan dan perantaraan kepada kaum perempuan, akan mendirikan studie fond untuk anak –anak perempuan yang tidak mampu
b.      Mengadakan kursus kursus kesehatan
c.       Menentang perkawainan anak-anak
d.      Memajukan kepanduan untuk organisasi-oranisasi wanita tersebut diatas. Pada umumnya tidak mencampuri urusan politik dan perjuangan dengan haluan kooperatif. [1]
2. Masa Orde baru
            Tampilnya soeharto sebagai presiden kedua menggantikan soekarno menyusul terjadinya pemberontakan PKI 1965 dan gerakan mahasiswa anti soekarno tahun 1966 mempunyai makna tersendiri baik yang bersifat positif mau pun negatif terhadap perjuangan perempuan. Ada beberapa fenomena positif  yang bisa di catat pertama adalah di keluarkannya UU perkawinan tahun 1974. Undang –undang ini, meskipun mengatur pegawai negeri, merupakan simbol dari keberpihakan negara terhadap perempuan, yaitu melakukan pembatasan secara ketat terhadap pegawai negeri laki-laki yang ingin melakukan poligami. UU yang pada awalnya ditentang oleh kalangan politisi islam ini merupakan langkah maju penting menuju pada kesetaraan hubungan laki-laki dan perempuan.
            Kedua, adalah dibentuknya Kementerian Muda urusan Peranan Wanita pada Kabinet Pembangunan 1974.Kementerian ini dalam perkembangannya mengalami beberapa perubahan nama, menjadi Menteri Negara Urusan Peranan Wanita, dan terakhir manjadi mentri  Negara Pemberdayaan Perempuan.[2]
B.     Peran gerakan perempuan  Muslim dalam memperjuangkan kesetaraan gender masa
Reformasi
                Setelah tumbangnya Rezim Orde Baru yang terkubur bersama Ideologinya. Munculkan NGO-NGOyang memperjuangkan kepentingan masyarakat kelas bawah sebagai akibat krisis moneter. Dimulai dari NGO yang menginformasikan dampak krisis dan daya tahan masyarakat terhadap krisis yaitu SMERU (Social Monitoring and Early Respons Unit). Terdapar juga aliansi kelompok miskin kota dengan nama Forum Miskin Kota ( FMK )yang memperjuangkan kepentingan kelompok miskin yang hilang harapan akibab krisis. Dikalangan mahasiswa terdapat perjuangan politik melalui organisasi mereka dengan nama Forum Kota ( Forum Kota ) yang menjadikan jalanan sebagai gedung parlemen.
              Berdiri juga NGO perempuan yang memperjuangkan kepentingan perempuan terkait dengan, perlindungan, pemberdayaan, rehabilitas dan aksi dalam kehidupan dirumah maupun di luar rumah seperti Pusat Pengembangan  Sumberdaya Wanita (PPSW) dan cabangnya di berbagai kota. Terdapat juga Kesuma (YPM-Kesuma)  yang bergerak dalam pemberdayaan kelompok marjinal dan pedagang informal di perkotaan antara lain di Jakarta dan bandung. Di Kota/Kabupaten  Bogor yaitu Prastita (PPPA) yang memberikan rehabilitas bagi korban kekerasan dalam rumah tangga dan pendampingan baik secara hukum maupun  psikososial terhadap korban.Dibidang gerakan demokrasi, desentralisasi dan otonomi daerah terdapat aliansi 17 NGO ( From NGO 17+) dari berbagai kota di Indonesia yang mengembangkan inisiative daerah untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik di bidang penanganan anak dan perempuan terdapat lebih dari 20 NGO yang tergabung dalam Indo-Act yang berjuang melayani anak dan perempuan sebagai korban kekerasan, diskriminasi dan penelantaran.

C.     Agenda Gerakan Perempuan Muslim ke Depan
D.    Pencapaian kaum perempuan Indonesia dewasa ini diberbagai bidang tak lepas dari peran Kartini selama hidupnya. Berbagai upaya untuk merevitalisasi cita-cita dan semangat Kartini dalam memajukan kaum perempuan Indonesia – Dharma Wanita Persatuan Pusat bekerja sama dengan United Nations millenium menyelenggarakan serangkaian acara untuk memperingati Hari Kartini, 21 April mendatang. Ketua umum PP Salimah Nurul Hidayati S.S  M.BA  menghadiri pertemuan pada Jumat, 12 maret 2010 di Gedung Dharma Wanita Persatuan Pusat dalam rangka persiapan Hari Kartini 2010. Thema yang diusung  peringatan Hari Kartini adalah ‘Perempuan Menatap ke Depan”. “Kami harapkan tidak bersifat seremonial belaka, tetapi merupakan momentum bagi upaya – upaya pengembangan program – program kerja nyata yang berkesinambungan bagi pencapaian MDGs di Indonesia,” kata Nila F.Moeloek yang didampingi Niniek L. Karim dan Dewi Motik . Pelaksaaan nya akan merupakan suatu kegiatan kolaboratif antar semua elemen masyarakat, khususnya perempuan, dalam mendukung upaya-upaya tercapainya suatu masyarakat yang berpengetahuan, independen dan sejahtera. Salimah menjadi salah satu ormas yang turut serta.
Adapun tujuan dari rangkaian kegiatan ini adalah:
1.   Memanfaatkan momentum Hari Kartini sebagai apresiasi kepada perempuan di masa kini
2.    Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya peran perempuan dalam mencapai tujuan-tujuan MDGs
Secara khusus Nila MF Moeloek  menyatakan bahwa banyak kelompok perempuan yang telah berbuat di tengah masyarakat, menjadi motivator bagi kaum perempuan di sekitarnya, beliau pun mengakui langkah Salimah yang dikatakan banyak memberikan edukasi di tengah kaum perempuan khususnya di kalangan majelis taklim. Dalam kesempatan tersebut Nurul Hidayati menyatakan Salimah siap untuk mensukseskan gerakan memperingati Hari Kartini dengan terlibat dalam gerakan bersama Perempuan Menatap Masa Depan.   Semua kegatan  para pengurus Salimah di seluruh Indonesia di majelis taklim maupun di kelompok-kelompok  pemberdayaan ekonomi  binaan Salimah  akan diarahkan khusus untuk  mensosalisasikan issue-isue terkait pemberdayaaan perempuan, pengokohan keluarga dan perlindungan anak  dalam kerangka mensukseskan pencapaian MDGs.  Salimah tengah  berpartisipasi dalam aktivitas tersebut yang diberi  istilah oleh panitya sebagai “street class” atau kelas terbuka yang diselenggarakan secara mandiri oleh masyarakat dengan minimum peserta sekitar sepuluh orang. Salimah  telah sangat akrab dengan kegiatan-kegiatan memotivasi kaum perempuan dalam berbagai forum seperti majelis taklim yang dihadiri oleh sekitar tiga puluh sampai seratus orang kaum ibu. Sebagian besar pengurus Salimah adalah para motivator atau yang dikenal dengan istilah Ustadzah.  Salmah pun sering melakukan pelatihan-pelatihan bagi tokoh-tokoh majelis taklim  dalam mensosialisasikan issue-isue kontemporer terkat pemberdayaan perempuan, pengokohan keluarga dan perlindungan anak.  Sehingga di forum majelis taklm yang begitu akrab dengan kaum perempuan Indonesia dapat menjadi sarana pembelajaran semua hal yang dibutuhkan kaum perempuan.
Pimpinan Pusat Salimah menyerukan kepada seluruh pengurus Salimah dan Para Ustazah di seluruh Indonesia untuk turut mensukseskan kelas-kelas terbuka dalam format majelis taklim untuk mensosialsasikan pencapaian MDGs yang disajikan dalam  ceramah-ceramah dan pelatihan-pelatihan dengan pilihan tema sebagai berikut :
1.      Islam memuliakan Perempuan
2.      Islam menghargai dan melindungi anak-anak termasuk anak perempuan
3.      Islam mengajarkan hidup teratur, terencana,produktif dan  hemat / kecerdasan financial
4.      Rosululloh mengajarkan jiwa wirausaha
5.       Pentingnya kaum ibu memilki ketrampilan-ketrampilan yang menghasilkan (dan prakteknya seperti pelajaran membuat kue, handy craft, dll)
6.       Islam mengajarkan kebersihan dan kesehatan
7.      Menjaga kehamilan  dan masa penyusuan dengan sehat
8.       Pentingnya menyusui bayi  selama dua tahun sesuai arahan Al Qur’an
9.      Islam agama yang ramah lingkungan ( Dalil-dalil syar’I terkait penjagaan lingkungan)
10.   Kaum Ibu dengan Pola hidup Ramah lingkungan  (disertai praktek mengelola sampah)
11.   Pentingnya Tanaman Obat Keluarga (disertai praktek menanam dan mengolah herba)
12.  Pentingnya Makanan Sehat dan pola Hidup Sehat
13.  Pendidikan Anak dalam Islam
14.  Pentingnya Pola Asuh yang baik untuk masa depan anak
15.  Islam memuliakan orang yang belajar dan mengajar Ilmu
16.  Pentingnya Membaca dalam meningkatkan kwalitas Kehidupan
17.  Nasehat  Nabi agar umat Islam Belajar Seumur Hidup
18.  Pencegahan penyalahgunaan Narkoba oleh orangtua
19.  Ancaman Narkoba bagi generasi muda Indonesia, fakta dan data.
20.   Berbagai kegiatan / ketrampilan yang menunjang.
Insya Allah, seluruh pengurus di Pimpinan pusat maupun Pimpinan wilayah di 30 provinsi serta Pimpinan Daerah di 289 kota kabupaten serta pimpinan cabang di  empat kecamatan akan berpartisipasi dalam gerakan ” Perempuan Menatap Ke Depan” dengan program Street class atau kelas terbuka selama bulan April 2010  sebanyak kurang lebih tiga ribu kelas di seluruh Indonesia. Terlepas dari berbagai soal yang bakal muncul dengan pilihan di atas, gerakan perempuan memang sudah saatnya untuk masuk kembali dalam gerakan sosial yang lebih luas, sehingga keberadaannya akan mampu secara substansial melakukan perubahan-perubahan sosial di Indonesia. Sebuah perubahan yang mengandaikan adanya situasi demokratis yang adil dan damai bagi semua, seperti yang juga disepakati bersama oleh peserta refleksi. Hanya, tetapi muncul kesadaran, di sana tidak harus terjadi keseragaman, sehingga gerakan perempuan tetap mengakui adanya pluralitas gerakan ataupun kemajemukan pilihan strategi dan pendekatan. Strategi gerakan perempuan yang demikian, merupakan upaya untuk membawa gerakan perempuan dalam kerja-kerja yang lebih sistematis, menggeser kerja-kerja yang berbasis pada pelayahan dan pendidikan (service and education) menuju pada bentuk gerakan sosial yang lebih luas dan lebih bermakna bagi gerakan perubahan sosial di Indonesia. Menghapuskan dikotomis antara gerakan strategis dan gerakan pragmatis, seperti yang terkotakkan selama ini.[3]



[1] http://ssbelajar.blogspot.co.id/2012/07/organisasi-wanita-masa-pergerakan.html
[2] Muhadjir Darwin,Gerakan Perempuan di Indonesia dari masa kemasa,Jurnal ilmu sosial dan pilitik, vol 7. 3 Maret ,2004.
[3] Jajat Burhanuddin, Ulama Perempuan Indonesia, PT Gramedia Pustaka Utama, h. 138-139.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar