RESPONDING PAPER
RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU
NITA NURNINGSIH
1113024000144
A.
Ketidak setaraan Gender dalam Tradisi dan teks-teks Hindu
1.
Gender dalam teks-teks
``Prajanarta sriyah srstahsamtanartham ca manawah Tasmat sadharano
dharmah Crutau patnya sahaditah.
Artinya untuk
menjadi ibu wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah laki-laki diciptakan oleh
upacara keagamaan saat perkawinan, karena itu ditetapkan dalam weda untuk
dilakukan oleh suami bersama istrinya
``Thata nityam yateyatam Stripumsau tu
kritakriau Yathanabhicaretan tau Wiyuktawitaretaram.
Artinya;
Hendaknya laki-laki dan perempuanyang terikat oleh perkawinan, mengusahakan
dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai, dan jangan hendaknya
melanggar kesetiaan satu dengan yang lainnya.{ Manawa dharma sastra 1X. 102}.
Dengan menegaskan
bahwa perbedaan perlakuan oleh siapapun dan kepada siapapun menjadi sah ketika
dogma dari hukum` adat` lebih ditekankan di banding hukum agama itu sendiri.
Ini menempatkan masyarakat secara umum pada kondisi yang tidak memiliki
kemampuan untuk memperoleh haknya secara wajar dan sempurna.
``Panam durjana samsargah Patya ca wirako tanam Swapno,nya geha
waacca Narisamudursanami sat.
Artinya.: Meminum
minuman keras, bergaul dengan orang orang jahat, berpisah dari suami tidur pada
jam-jam tidak layak, mengembara keluar daerah, berdiam di rumah laki-laki lain
adalah enam sebab jatuhnya seorang wanit yang menyebabkan kehancuran.{ Manawa
Dharma sastra 1X }[1]
2.
Gender dalam tradisi
Dalam agama hindu,
sejak awal kehidupan, perkawinan merupakan salah satu lembaga efektif. Dalamm
Weda Smerti disebutkan bahwa hendaknya laki laki dan perempuan yang terikat
dalam ikatan perkawinan hendaknya berusaha dengan tidak jemu-jemu supaya mereka
tidak bercerai dan jangan melanggar kesetiaan antara yang dengan yang lain.
Perkawinan hanya sekali dan jangan melanggar kesetiaan.
B.
Relasi Kuasa Dewa Dewa dan Dewi Dewi
Polytheisme Hindu walaupun kelihatannya jelas, tetapi
masih merupakan teka-teki misterius yang akan tetap berlanjut sedemikian sampai
ia dipandang dalam perspektif yang benar.
Ada tiga aspek terhadap Polytheisme ini. Tiga keyakinan utama
tentang pemujaan devata Trimurti yang terdiri dari Brahma,
Visnu, dan Siva bersama dengan para pendampingnya, membentuk aspek pertama.
Disini segala pemujaan wujud devata dianggap sebagai aspek berbeda-beda
dari Tuhan yang Maha Esa, Isvara. Devata-devata minor seperti Ganesa
dan Kumara, membentuk aspek kedua. Walaupun para Devata ini
kadang –kadang juga dilukiskan sebagai aspek tuhan Tertinggi, umumnya
kedudukannya lebih rendah ketimbang Trimurti tersebut. Dengan demikian
mereka itu menyatakan manifestasi terbatas dari Tuhan. Lokapala (
penjaga dunia) yang juga disebut sebagai Dikpala ( penjaga arah mata
angin ) seperti Indra, Varuna,
Angi dan lain sebagainnya nenempati aspek ketiga. [2]
Zaman purana
merupakan perkembangan dari kebudayaan terdahulu. Zaman ini merupakan masa-masa
ketika mitologi Hindu dihimpun. Pada zaman tersebut, Dewa Dewi memiliki karakter khusus dan dilukiskan
secara detail. Pada zaman ini pula, terjadi kisah epos Ramayana dan
Mahabharata, yang dipercaya sebagai kejadian bersejarah. Pada epos Ramayana, dikisahkan
bahwa Sri Rama dan bala tentaranya membangun sebuah jembatan dari india menuju Alengka. Reruntuhan
jembatan Kuno yang menghubungkan antara India dan Srilangka yang kini terpendam
didasar laut dianggap dan diyakini sebagai bukti sejarahnya. Bukti arkeologi
sangat dibutuhkan untuk meyakinkan apakah cerita tersebut merupakan bagian dari
sejarah atau mitologi belaka.
Mitologi hindu tak
lepas dari cerita para makhluk supranatural sepertimisalnya: Dewa asura,
raksasa, Detya, Gandharwa, Yaksa, dan lain-lain. Mkhluk supernatural yang
paling adalah dewa, asura dan raksasa dan lai-lain. Mkhluk supernatural yang
paling terkenal adalah Dewa, Asura, dan raksasa. Dalam mitologi hindu di kenal
adanya Dewa- Dewi yang mana dewa dewi tersebut merupakan personifikasi dari
alam atau sebagai perwujudan dari gelar kemahakuasaan tuhan.. Kepercayaan
tentang dewa sewi dalam agama hindu sudah muncul sejak zaman Weda yaitu pada
masa agama hindu baru berkembang. Dewa dewi banyak disebut dalam Weda sebagai makhluk dibawah derajat Tuhan
pada zaman weda, dewa dewi banyak dipuja sebagai pelindung dari manusia.
Para Dewa dan
Dewi tinggal menurut tempatnya masing-masing, seperti misalnya; Dewa Siwa
digunung Kailash, Dewa Wisnu di Waikuntha, Dewa Brahma di Satyaloka dan
sebagainya. Namun, atas sifat-sifat gaip yang dimilikinya, para dewa dan dewi
dapat muncul dengan cepat kapan saja dan dimana saja sesuai dengan
keinginannya.
C . Gender; sistem kasta dan masyarakat yang seksis
Kasta dalam agama hindu di bagi
menjadi empat, Brahma, ksatria, Waisya, dan Sudra dalam hal ini marilah kita
lihat teks berikut:``Catur-varnyam mayasrstam
Guna- karma Vibhagasah
Tasya kartaram api mam
Viddy akartaram avyayam
Artinya:Catur warna(empat tatanan
masyarakat utama) adalah ciptaan ku menurut pembagian kualitas dan kerja:
tetapi ketahuilah bahwa walaupun aku penciptanya, Aku tak terbuat dan merubah
diriku.``(Bagawad Gita. 1V. 13).
Menurut Panetje(1986:20), empat
kasta dalam agama Hindu yang disebut catur warna itu satu sama lain sangat
terpisah. Seseorang masuk salah satu kasta itu hanya karna keturunan melalui
garis-garis( parusa)``patrilineal``.
Begitu pula pandangan tentang
kasta dipahami untuk menciptakan masyarakat yang tertib di tengah-tengah
berbagai kelompok professional, ia tidak di maksudkan untuk menciptakan
pembagian sosial yang menyebarkan kebencian.
D.
Feminis Hindu; parjuangan melawan ketidaksetaraan
Kaum wanita telah
mampu berkarma yang agung baik sebagai ibu rumah tangga, filosof, pujangga,
kesatria, sebagai suku guru kehidupan masyarakat dan negara. Wanita sangat
menentukan maju mundurnya kehidupan
keluarga, dan negara bahkan sering dijadikan cermin perkembangan
keluarga, masyarakat dan negara. Dengan demikian seorang ibu hendaknya
memperlihatkan wajah yang berseri seri sehingga keharmonisan dan kebahagiaan
dalam keluarga menjadi terwujud.
Shiva dalam bukunya yang berjudul Staying
Alive: Wemen, Ecology and Development menyatakan bahwa berdasarkan pengalamanya
di India pembangunan ekses dari globalisasi membuat perempuan india
tereksklusif dari alam sebagai sumber pendapatan.
Perempuan di
india. Dia mengatakan dalam pembangunan di india hanya melibatkan laki-laki dan
serta merta menghancurkan alam yang menjadi sumber pendapatan perempuan,hal ini
membuat negara dan pasar memperlakukan perempuan secara tidak adil dengan cara
memiskinkan perempuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar