Minggu, 03 Januari 2016

RESPONDING PAPER RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU NITA NURNINGSIH 1113034000144

RESPONDING PAPER
RELASI GENDER DALAM AGAMA HINDU
 NITA NURNINGSIH
1113024000144
A.    Ketidak setaraan Gender dalam Tradisi dan teks-teks Hindu
1.      Gender dalam teks-teks
``Prajanarta sriyah srstahsamtanartham ca manawah Tasmat sadharano dharmah Crutau patnya sahaditah.
             Artinya untuk menjadi ibu wanita diciptakan dan untuk menjadi ayah laki-laki diciptakan oleh upacara keagamaan saat perkawinan, karena itu ditetapkan dalam weda untuk dilakukan oleh suami bersama istrinya
``Thata  nityam  yateyatam   Stripumsau tu  kritakriau Yathanabhicaretan tau Wiyuktawitaretaram.
             Artinya; Hendaknya laki-laki dan perempuanyang terikat oleh perkawinan, mengusahakan dengan tidak jemu-jemunya supaya mereka tidak bercerai, dan jangan hendaknya melanggar kesetiaan satu dengan yang lainnya.{ Manawa dharma sastra 1X. 102}.
            Dengan menegaskan bahwa perbedaan perlakuan oleh siapapun dan kepada siapapun menjadi sah ketika dogma dari hukum` adat` lebih ditekankan di banding hukum agama itu sendiri. Ini menempatkan masyarakat secara umum pada kondisi yang tidak memiliki kemampuan untuk memperoleh haknya secara wajar dan sempurna.
``Panam durjana samsargah Patya ca wirako tanam Swapno,nya geha waacca Narisamudursanami sat.
            Artinya.: Meminum minuman keras, bergaul dengan orang orang jahat, berpisah dari suami tidur pada jam-jam tidak layak, mengembara keluar daerah, berdiam di rumah laki-laki lain adalah enam sebab jatuhnya seorang wanit yang menyebabkan kehancuran.{ Manawa Dharma sastra 1X }[1]
2.      Gender dalam tradisi
          Dalam agama hindu, sejak awal kehidupan, perkawinan merupakan salah satu lembaga efektif. Dalamm Weda Smerti disebutkan bahwa hendaknya laki laki dan perempuan yang terikat dalam ikatan perkawinan hendaknya berusaha dengan tidak jemu-jemu supaya mereka tidak bercerai dan jangan melanggar kesetiaan antara yang dengan yang lain. Perkawinan hanya sekali dan jangan melanggar kesetiaan.


B.      Relasi Kuasa Dewa Dewa dan Dewi Dewi
             Polytheisme  Hindu walaupun kelihatannya jelas, tetapi masih merupakan teka-teki misterius yang akan tetap berlanjut sedemikian sampai ia dipandang dalam perspektif yang benar.
Ada tiga aspek terhadap Polytheisme ini. Tiga keyakinan utama tentang pemujaan devata Trimurti yang terdiri dari Brahma, Visnu, dan Siva bersama dengan para pendampingnya, membentuk aspek pertama. Disini segala pemujaan wujud devata dianggap sebagai aspek berbeda-beda dari Tuhan yang Maha Esa, Isvara. Devata-devata minor seperti Ganesa dan Kumara, membentuk aspek kedua. Walaupun para Devata ini kadang –kadang juga dilukiskan sebagai aspek tuhan Tertinggi, umumnya kedudukannya lebih rendah ketimbang Trimurti tersebut. Dengan demikian mereka itu menyatakan manifestasi terbatas dari Tuhan. Lokapala ( penjaga dunia) yang juga disebut sebagai Dikpala ( penjaga arah mata angin  ) seperti Indra, Varuna, Angi dan lain sebagainnya nenempati aspek ketiga. [2]
              Zaman purana merupakan perkembangan dari kebudayaan terdahulu. Zaman ini merupakan masa-masa ketika mitologi Hindu dihimpun. Pada zaman tersebut, Dewa Dewi  memiliki karakter khusus dan dilukiskan secara detail. Pada zaman ini pula, terjadi kisah epos Ramayana dan Mahabharata, yang dipercaya sebagai kejadian bersejarah. Pada epos Ramayana, dikisahkan bahwa Sri Rama dan bala tentaranya membangun sebuah jembatan  dari india menuju Alengka. Reruntuhan jembatan Kuno yang menghubungkan antara India dan Srilangka yang kini terpendam didasar laut dianggap dan diyakini sebagai bukti sejarahnya. Bukti arkeologi sangat dibutuhkan untuk meyakinkan apakah cerita tersebut merupakan bagian dari sejarah atau mitologi belaka.
           Mitologi hindu tak lepas dari cerita para makhluk supranatural sepertimisalnya: Dewa asura, raksasa, Detya, Gandharwa, Yaksa, dan lain-lain. Mkhluk supernatural yang paling adalah dewa, asura dan raksasa dan lai-lain. Mkhluk supernatural yang paling terkenal adalah Dewa, Asura, dan raksasa. Dalam mitologi hindu di kenal adanya Dewa- Dewi yang mana dewa dewi tersebut merupakan personifikasi dari alam atau sebagai perwujudan dari gelar kemahakuasaan tuhan.. Kepercayaan tentang dewa sewi dalam agama hindu sudah muncul sejak zaman Weda yaitu pada masa agama hindu baru berkembang. Dewa dewi banyak disebut dalam  Weda sebagai makhluk dibawah derajat Tuhan pada zaman weda, dewa dewi banyak dipuja sebagai pelindung dari manusia.
                Para Dewa dan Dewi tinggal menurut tempatnya masing-masing, seperti misalnya; Dewa Siwa digunung Kailash, Dewa Wisnu di Waikuntha, Dewa Brahma di Satyaloka dan sebagainya. Namun, atas sifat-sifat gaip yang dimilikinya, para dewa dan dewi dapat muncul dengan cepat kapan saja dan dimana saja sesuai dengan keinginannya.
C . Gender; sistem kasta dan masyarakat yang seksis
Kasta dalam agama hindu di bagi menjadi empat, Brahma, ksatria, Waisya, dan Sudra dalam hal ini marilah kita lihat teks berikut:``Catur-varnyam mayasrstam
                                                          Guna- karma Vibhagasah
                                                           Tasya kartaram api mam
                                                           Viddy akartaram avyayam
             Artinya:Catur warna(empat tatanan masyarakat utama) adalah ciptaan ku menurut pembagian kualitas dan kerja: tetapi ketahuilah bahwa walaupun aku penciptanya, Aku tak terbuat dan merubah diriku.``(Bagawad Gita. 1V. 13).
             Menurut Panetje(1986:20), empat kasta dalam agama Hindu yang disebut catur warna itu satu sama lain sangat terpisah. Seseorang masuk salah satu kasta itu hanya karna keturunan melalui garis-garis( parusa)``patrilineal``.
                 Begitu pula pandangan tentang kasta dipahami untuk menciptakan masyarakat yang tertib di tengah-tengah berbagai kelompok professional, ia tidak di maksudkan untuk menciptakan pembagian sosial yang menyebarkan kebencian.

D.    Feminis Hindu; parjuangan melawan ketidaksetaraan
            Kaum wanita telah mampu berkarma yang agung baik sebagai ibu rumah tangga, filosof, pujangga, kesatria, sebagai suku guru kehidupan masyarakat dan negara. Wanita sangat menentukan maju mundurnya kehidupan  keluarga, dan negara bahkan sering dijadikan cermin perkembangan keluarga, masyarakat dan negara. Dengan demikian seorang ibu hendaknya memperlihatkan wajah yang berseri seri sehingga keharmonisan dan kebahagiaan dalam keluarga menjadi terwujud.
             Shiva dalam bukunya yang berjudul Staying Alive: Wemen, Ecology and Development menyatakan bahwa berdasarkan pengalamanya di India pembangunan ekses dari globalisasi membuat perempuan india tereksklusif dari alam sebagai sumber pendapatan.
            Perempuan di india. Dia mengatakan dalam pembangunan di india hanya melibatkan laki-laki dan serta merta menghancurkan alam yang menjadi sumber pendapatan perempuan,hal ini membuat negara dan pasar memperlakukan perempuan secara tidak adil dengan cara memiskinkan perempuan.



[1] 1Wayan Wildana, Buklet Seri Adat Ketidak adilan Gender dalam Tafsir Hindu: SebuahPengantar Gerakan Keadilan Gender dalam Perspektif Hindu, hlm. 33
[2] Svani Harshananda.Dewa-Dewi Hindu,surabaya: Paramita, 2007,penerjamah 1 Wayan Maswinara. Hlm 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar