Minggu, 03 Januari 2016

RESPONDING PAPER RELASI GENDER DALAM AGAMA KONGFUTSE NITA NURNINGSIH 1113034000144

RESPONDING PAPER
RELASI GENDER DALAM AGAMA KONGFUTSE
NITA NURNINGSIH
1113034000144
A.Sejarah Lahirnya Aagama Konghucu

             Agama Khonghucu, tepatnya disebut Ru Jiao, sudah ada 2000 tahun sebelum Nabi Khongcu lahir. Para raja dan rakyat harus menjalankan upacara agama dan menjunjung tinggi moralitas seperti yang diajarkan oleh para luhur raja. Nabi Khongcu lahir pada tahun 551 SM. Ia ditugaskan oleh Tuhan untuk menata kembali tata upacara agama Ru Jiao dan mengajarkan kepada raja dan rakyat Tiongkok tentang spiritual dan moral agar rakyat Tiongkok hidup lebih sejahtera dan damai. Pada waktu itu di Tiongkok terjadi perpecahan yang menjadikan negeri Tiongkok kacau balau. Para kepala daerah ingin menjadi raja, mereka saling berperang berebut wilayah. Zaman itu disebut zaman Chun Qiu ( Musim Semi dan Musim Gugur).
Nabi Khongcu mendirikan sekolah yang menampung murid sebanyak 3000 orang. Setelah para murid itu pandai banyak yang mendirikan sekolah meneruskan ajaran Nabi Khongcu. Namun, ada juga murid yang mendirikan sekolah dengan aliran lain. Pada waktu itu muncul aliran yang bermacam-macam di Tiongkok, bakan ada aliran yang bertentangan dengan ajaran Nabi, antara lain aliran Mohist yang didirikan oleh Mo Zi.
Dua tokoh besar yang meneruskan ajaran Rujiao yaitu Meng Zi atau Mencius (371-289 SM) dan Xun Zi (326-233 SM). Kedua tokoh ini memang mengajarkan ajaran Rujiao dari Kong Zi, namun mereka mempunyai perbedaan pendapat dalam beberapa hal karena mereka hidup dalam situasi negara Tiongkok yang berbeda. Meng Zi hidup pada saat awal kekacauan muncul, sedangkan Xun Zi lahir saat kekacauan itu sudah memuncak.
Meng Zi mengajarkan: manusia akan hidup bahagia apabila negara makmur dan sejahtera, untuk itu menusia harus melaksanakan Perintah Tuhan, yaitu menjalani hidup lurus, jujur, dan tidak serakah. Kekacauan terjadi dalam masyarakat karena banyak orang tidak menjalankan hidup sesuai Perintah Tuhan. Ajaran Meng Zi lebih mengarah kepada ajaran agama, kekuatan iman sangat diperhatikan. Meng Zi menyakini bahwa watak dasar manusia itu baik.
Xun Zi mengajarkan bahwa manusia bisa hidup bahagia apabila negaranya kuat dan kaya. Untuk mewujudkan negara yang kuat dan kaya perlu dibuat undang-undang yang berlandaskan cinta kasih dan keadilan, dan ditentukan sistem kemasyarakatan yang jelas. Rakyat perlu dididik untuk hidup sesuai dengan sistem kemasyarakatan yang ada. Ajaran Xun Zi lebih mengarah kepada ajaran Filsafat Konfusianisme. Xun Zi tidak yakin bahwa  watak dasar manusia itu baik, maka dia menyarakan adanya penegakan hukum yang serius agar rakyat hidup lurus dan benar.[1]
B. Status Perempuan dalam ajaran Agama Kongfutse 
          ringkas mengenai tata aturan kosmis tentang langit dan bumi, tata aturan manusia yang terkait dengan tata aturan kosmis dengar akar-akarnya dalam keluarga. Tata aturan kosmis dalam pengertiannya yang sempurna dipandang sebagai suatu kesatuan dari tritunggal, yaitu langit, bumi dan manusia. Manusia secara intim  berhubungan dengan langit dan bumi, tetapi tidak dalam ranah berhubungan dengan ritual penghambaan, melainkan untuk belajar dari keduanya, meniru tingkah laku keduanya, dan dengan demikian akan tercipta sebuah tata aturan manusia yang mencontoh tata aturan kosmis. Dari sinilah kita dapat menemukan tiga aspek aturan kosmis yang dipelajari seperti sebelumnya.                                                                                                                                                                   Pertama,
 langit dan bumi dipandang secara fundamental sebagai sumber kehidupan; keduanya selalu membawa kehidupan baru menjadi ada, memelihara dan mempertahankannya. Opimisme fundamental dari konfusianisme adalah hidup itu  baik,--hidup adalah pemberian paling berharga dari segalanya.
 Kedua,
tata aturan kosmis yang dihargai oleh penganut confusianisme adalah  bahwa segala sesuatu dalam hidup ini saling berhubungan. Tak ada sesuatupun hidup dalam isolasi. Hubungan antara kangit dan bumi merupakan hubungan paling penting dan paling efektif di alam semesta ini. Tetapi kedua wujud ini tidak berfungsi sama; ada hirarki, langit sebagai yang superior, elemen yang kreatif, berposisi diatas sedangkan bumi sebagai inferior, elemen yang refresif, berposisi dibawah. Persoalannya adalah efektifitas hubungan yang menyeluruh bukan pada mana yang superior atau inferior.
 Ketiga,
dari tata aturan kosmis yang mempengaruhi penganut konfusianisme adalah kebiasaan yang teratur didalamnya lebih mengedepankan harmonitas daripada konflik. Diantara masing-masing bagian dipola atau disusun untuk bekerja bagi kebaikan terhadap keseluruhannya, tetapi pada saat yang sama juga menyadari hakikatnya sendiri.



C. Peran perempuan Dalam Sejarah Perkembangan agama Kongfutse 
           Tindakan pertama menunjukkan bahwa sebagai perempuan dia harus bersikap rendah dan tunduk, sederhana dihadapan orang lain, kedua menunjukkan bahwa dia harus kerja keras dan rajin dalam wilayah domestic, dan ketiga bahwa dia harus masuk sepenuhnya kepada tanggung jawab istri terhadap para leluhur keluarga suaminya. Setelah menjelaskan tiga aspek fundamental tentang lapanga kerja perempuan sebagai seorang istri, pan chao selanjutnya memfokuskan pada hakikat ikatan Cperkawinan dan kewajiban istri terhadap suaminya. Dia sepenuhnya menerima  persesuaian kosmologis hubungan antara suami dan istri dengan langit dan bumi, dan implikasi-implikasi perbedaan peranan secara seksual. Yaitu suami harus kuat, tegas dan dominan seperti langit, dan istri harus lemah, mudah terpengaruh, bersikap tunduk seperti bumi. Kewajiban suami adalah mengatur istri sedang kewajiban istri adalah melayani suaminya. Sesuatu akan berjalan serba salah apabila salah satunya gagal dalam melaksanakan kewajibannya terhadap yang lain. Jadi laki-laki yang gagal menggunakan otoritasnya terhadap istrinya, kesalahnnya sama dengan istri yang tidak setia melayani suaminya (
 Nu-Chieh
1 : 4b-5a, Swann 1932, 84) Selanjutnya pan chao membahas bagaimana hilannya penghargaan istri terhadapa suami dan sering kali membawa sikap jijik terhadapa suami, dan tak henti-hentinya menyalahkan istri, yang membuat marah suami dan selanjutnya memukul
istri. “hubungan yang benar
antara suami istri didasarkan pada keharmonian (keselarasan)
…. Akankah pukulan yang diberikan, bagaimana hubungan perkawinan
dapat dilingdungi (dijaga)? (
 Nu-Chieh
1 : 6b, Swann 1932, 84

D. Reinterpretasi dan Adaptasi Peran Peran Gender Traditional

             Pada bagian ini perempuan sudah mulai mencari-cari kesalahan para suami dengan mempertanyakan beberap sifat laki-laki yang tidak selamanya berada dalam  perbuatan yang baik. Contohnya, dalam
The Classics Of Filial Piety
yakni sifat
 
sederhana dan bersahaja sama agungnya dengan yang dikemukakan dalam
 Analects  for Women
 yang ditulis seratus tahun kemudian. Sung Jo-Chao, pengarannya sangat terkesan dengan kehidupan Pan Chao yang hidupnya dicurahkan untuk pendidikan moral bagi perempuan. Bukunya
 Analects for Women
 kaya akan uraian-uraian yang kongkrit tentang bagaimana mengolah karakter pribadi seseorang, bagaimana meminpin atau menjalankan rumah tangga dan bagaimana mengurus hubungan rumah tangga. Nasehat berikut berasa dari bab pembukaan.
“jagalah tubuhmu tetap bersih dan kehormatanmu tetap tak ternoda. Jika
 berjalan, jangan tengokkan kepalamu; jika berbicara, jangan buka mulutmu lebar-lebar; jika berdiri, jangan kirapkan pakaianmu. Jika engaku merasa senang, jangan meluapkannya dalam tertawa terbahak-bahak; jika marah,  jangan melepaskannya dalam suara yang keras. (Nu Lun-yu 2;2b) Teks tersebut kemudian mulai membahas persealan beberapa kewajiban dalam rumah tangga seperti memberi makan dan pakaian, demikian juga keramahan dalam menerima tamu. Ajaran-ajaran memintal dan menenun baju juga diberikan, sebagaimana juga menyiapakan dan melatani makanan dengan cara yang pantas. Penjelasan yang mendetail tentang kewajiban seseirang dalam terhadap orang tuanya, mertuanya, suaminya, dan juga anaknya diberikan. Kedua teks terakhir dari teks-teks tentang pelajaran-pelajaran bagi perempuan ini mempunyai nilai yakni telah menyempurnakan pedoman dasar yang telah diberikan oleh Pan Chao dalam
 Instructions for Women-
nya. Yang menjadikan nilai tersebut suatu saat lebih mulia dan lebih bersahaja. Peranan moral perempuan telah terangkat dan rincian praktis untuk memenuhi peranannya tersebut telah diuraikan.




[1] http://www.gentanusantara.com/sejarah-agama-khonghucu/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar