RESPONDING PAPER
RELASI GENDER DALAM AGAMA
KONGFUTSE
NITA NURNINGSIH
1113034000144
A.Sejarah Lahirnya Aagama Konghucu
Agama
Khonghucu, tepatnya disebut Ru Jiao, sudah ada 2000 tahun sebelum Nabi Khongcu
lahir. Para raja dan rakyat harus menjalankan upacara agama dan menjunjung
tinggi moralitas seperti yang diajarkan oleh para luhur raja. Nabi Khongcu
lahir pada tahun 551 SM. Ia ditugaskan oleh Tuhan untuk menata kembali tata
upacara agama Ru Jiao dan mengajarkan kepada raja dan rakyat Tiongkok tentang
spiritual dan moral agar rakyat Tiongkok hidup lebih sejahtera dan damai. Pada
waktu itu di Tiongkok terjadi perpecahan yang menjadikan negeri Tiongkok kacau
balau. Para kepala daerah ingin menjadi raja, mereka saling berperang berebut
wilayah. Zaman itu disebut zaman Chun Qiu ( Musim Semi dan Musim Gugur).
Nabi Khongcu mendirikan sekolah yang menampung murid sebanyak
3000 orang. Setelah para murid itu pandai banyak yang mendirikan sekolah
meneruskan ajaran Nabi Khongcu. Namun, ada juga murid yang mendirikan sekolah
dengan aliran lain. Pada waktu itu muncul aliran yang bermacam-macam di
Tiongkok, bakan ada aliran yang bertentangan dengan ajaran Nabi, antara lain
aliran Mohist yang didirikan oleh Mo Zi.
Dua tokoh besar yang meneruskan ajaran Rujiao yaitu Meng Zi atau
Mencius (371-289 SM) dan Xun Zi (326-233 SM). Kedua tokoh ini memang
mengajarkan ajaran Rujiao dari Kong Zi, namun mereka mempunyai perbedaan
pendapat dalam beberapa hal karena mereka hidup dalam situasi negara Tiongkok
yang berbeda. Meng Zi hidup pada saat awal kekacauan muncul, sedangkan Xun Zi
lahir saat kekacauan itu sudah memuncak.
Meng Zi mengajarkan: manusia akan hidup bahagia apabila negara
makmur dan sejahtera, untuk itu menusia harus melaksanakan Perintah Tuhan,
yaitu menjalani hidup lurus, jujur, dan tidak serakah. Kekacauan terjadi dalam
masyarakat karena banyak orang tidak menjalankan hidup sesuai Perintah Tuhan.
Ajaran Meng Zi lebih mengarah kepada ajaran agama, kekuatan iman sangat
diperhatikan. Meng Zi menyakini bahwa watak dasar manusia itu baik.
Xun Zi mengajarkan bahwa manusia bisa hidup bahagia apabila
negaranya kuat dan kaya. Untuk mewujudkan negara yang kuat dan kaya perlu
dibuat undang-undang yang berlandaskan cinta kasih dan keadilan, dan ditentukan
sistem kemasyarakatan yang jelas. Rakyat perlu dididik untuk hidup sesuai
dengan sistem kemasyarakatan yang ada. Ajaran Xun Zi lebih mengarah kepada
ajaran Filsafat Konfusianisme. Xun Zi tidak yakin bahwa watak dasar
manusia itu baik, maka dia menyarakan adanya penegakan hukum yang serius agar
rakyat hidup lurus dan benar.[1]
B. Status Perempuan dalam ajaran Agama Kongfutse
ringkas mengenai tata aturan kosmis
tentang langit dan bumi, tata aturan manusia yang terkait dengan tata aturan
kosmis dengar akar-akarnya dalam keluarga. Tata aturan kosmis dalam
pengertiannya yang sempurna dipandang sebagai suatu kesatuan dari tritunggal,
yaitu langit, bumi dan manusia. Manusia secara intim berhubungan dengan
langit dan bumi, tetapi tidak dalam ranah berhubungan dengan ritual
penghambaan, melainkan untuk belajar dari keduanya, meniru tingkah laku
keduanya, dan dengan demikian akan tercipta sebuah tata aturan manusia yang
mencontoh tata aturan kosmis. Dari sinilah kita dapat menemukan tiga aspek
aturan kosmis yang dipelajari seperti sebelumnya. Pertama,
langit dan bumi dipandang secara
fundamental sebagai sumber kehidupan; keduanya selalu membawa kehidupan baru
menjadi ada, memelihara dan mempertahankannya. Opimisme fundamental dari
konfusianisme adalah hidup itu baik,--hidup adalah pemberian paling
berharga dari segalanya.
Kedua,
tata aturan kosmis yang dihargai oleh penganut
confusianisme adalah bahwa segala sesuatu dalam hidup ini saling
berhubungan. Tak ada sesuatupun hidup dalam isolasi. Hubungan antara kangit dan
bumi merupakan hubungan paling penting dan paling efektif di alam semesta ini.
Tetapi kedua wujud ini tidak berfungsi sama; ada hirarki, langit sebagai yang
superior, elemen yang kreatif, berposisi diatas sedangkan bumi sebagai
inferior, elemen yang refresif, berposisi dibawah. Persoalannya adalah
efektifitas hubungan yang menyeluruh bukan pada mana yang superior atau
inferior.
Ketiga,
dari tata aturan kosmis yang mempengaruhi
penganut konfusianisme adalah kebiasaan yang teratur didalamnya lebih
mengedepankan harmonitas daripada konflik. Diantara masing-masing bagian dipola
atau disusun untuk bekerja bagi kebaikan terhadap keseluruhannya, tetapi pada
saat yang sama juga menyadari hakikatnya sendiri.
C.
Peran perempuan Dalam Sejarah Perkembangan agama Kongfutse
Tindakan pertama menunjukkan bahwa
sebagai perempuan dia harus bersikap rendah dan tunduk, sederhana dihadapan
orang lain, kedua menunjukkan bahwa dia harus kerja keras dan rajin dalam
wilayah domestic, dan ketiga bahwa dia harus masuk sepenuhnya kepada tanggung
jawab istri terhadap para leluhur keluarga suaminya. Setelah menjelaskan tiga
aspek fundamental tentang lapanga kerja perempuan sebagai seorang istri, pan
chao selanjutnya memfokuskan pada hakikat ikatan Cperkawinan dan kewajiban
istri terhadap suaminya. Dia sepenuhnya menerima persesuaian kosmologis
hubungan antara suami dan istri dengan langit dan bumi, dan implikasi-implikasi
perbedaan peranan secara seksual. Yaitu suami harus kuat, tegas dan dominan
seperti langit, dan istri harus lemah, mudah terpengaruh, bersikap tunduk
seperti bumi. Kewajiban suami adalah mengatur istri sedang kewajiban istri
adalah melayani suaminya. Sesuatu akan berjalan serba salah apabila salah
satunya gagal dalam melaksanakan kewajibannya terhadap yang lain. Jadi
laki-laki yang gagal menggunakan otoritasnya terhadap istrinya, kesalahnnya
sama dengan istri yang tidak setia melayani suaminya (
Nu-Chieh
1 : 4b-5a,
Swann 1932, 84) Selanjutnya pan chao membahas bagaimana hilannya penghargaan
istri terhadapa suami dan sering kali membawa sikap jijik terhadapa suami, dan
tak henti-hentinya menyalahkan istri, yang membuat marah suami dan selanjutnya
memukul
istri.
“hubungan yang benar
antara suami
istri didasarkan pada keharmonian (keselarasan)
…. Akankah
pukulan yang diberikan, bagaimana hubungan perkawinan
dapat
dilingdungi (dijaga)? (
Nu-Chieh
1 : 6b, Swann
1932, 84
D. Reinterpretasi dan Adaptasi Peran Peran Gender Traditional
Pada bagian ini perempuan sudah mulai mencari-cari kesalahan para suami
dengan mempertanyakan beberap sifat laki-laki yang tidak selamanya berada dalam
perbuatan yang baik. Contohnya, dalam
The Classics Of Filial Piety
yakni sifat
sederhana dan bersahaja sama agungnya dengan
yang dikemukakan dalam
Analects for Women
yang ditulis seratus tahun kemudian. Sung
Jo-Chao, pengarannya sangat terkesan dengan kehidupan Pan Chao yang hidupnya
dicurahkan untuk pendidikan moral bagi perempuan. Bukunya
Analects for Women
kaya akan uraian-uraian yang kongkrit
tentang bagaimana mengolah karakter pribadi seseorang, bagaimana meminpin atau
menjalankan rumah tangga dan bagaimana mengurus hubungan rumah tangga. Nasehat
berikut berasa dari bab pembukaan.
“jagalah tubuhmu tetap bersih dan kehormatanmu
tetap tak ternoda. Jika
berjalan, jangan tengokkan kepalamu; jika
berbicara, jangan buka mulutmu lebar-lebar; jika berdiri, jangan kirapkan
pakaianmu. Jika engaku merasa senang, jangan meluapkannya dalam tertawa
terbahak-bahak; jika marah, jangan melepaskannya dalam suara yang keras.
(Nu Lun-yu 2;2b) Teks tersebut kemudian mulai membahas persealan beberapa
kewajiban dalam rumah tangga seperti memberi makan dan pakaian, demikian juga
keramahan dalam menerima tamu. Ajaran-ajaran memintal dan menenun baju juga
diberikan, sebagaimana juga menyiapakan dan melatani makanan dengan cara yang
pantas. Penjelasan yang mendetail tentang kewajiban seseirang dalam terhadap
orang tuanya, mertuanya, suaminya, dan juga anaknya diberikan. Kedua teks
terakhir dari teks-teks tentang pelajaran-pelajaran bagi perempuan ini
mempunyai nilai yakni telah menyempurnakan pedoman dasar yang telah diberikan
oleh Pan Chao dalam
Instructions for Women-
nya. Yang menjadikan nilai tersebut suatu saat
lebih mulia dan lebih bersahaja. Peranan moral perempuan telah terangkat dan
rincian praktis untuk memenuhi peranannya tersebut telah diuraikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar