RESPONDING
PAPER
RELASI
GENDER DALAM AGAMA KRISTEN
NITA NURNNGSIH
1113034000144
A.
Status perempuan dalam ritual-ritual dan kehidupan sosial dalam
Perjanjian Baru
Agama kristen
tidak melindungi kaum perempuan dari tindak kezaliman kaum lelaki, mereka tidak
melepaskan perempuan dari otoritas lelaki. Agama kristen lebih memaksakan kaum
perempuan agar tunduk dan patuh kepada lelaki secara mutlak. Didalam surat
paulus berkata, ``wahai para istri, patuhlah kepada suamimu seperti kepada
Tuhan, karena suami adalah pemimpin istrinya sebagaimana Kristus adalah
pemimpin gereja``. Maksud dari perkataan paulus ini bahkan lelaki adalah
pemimpin untuk para kaum perempuan, maka dari itu mereka harus tunduk
terhadapnya.[1]
Partisipasi
perempuan dalam bidang keagamaan dikisahkan dalam perjanjian baru. Maria
maghdalena adalah satu satunya perempuany yang disebutkan di keempat injil,
selai sang perawan maria. Ia muncul pertama kalinya selama pelayanan yesus di
Galilea. Dia juga orang pertama yang menjadi saksi dari kebangkitan Yesus dari
kuburnya sebagaimana diakui oleh keempat Injil. Namun, sebagian Feminis
Kristiani menyebutkan bahwa Geraja selama ini tidak berlaku adil padanya karena
perannya sebagai orang terdekat Yesus dimarjinalisasikan.
Ada daerah khusus dekenal didalam Rumah Allah dengan nama ``Halaman
Wanita``, karena wanita-wanita tidak deperkenankan masuk kedalam halaman Bait
Allah.
Dari sumber-sumber yang khusus, diceritakan pada kita bahwa wanita
wanita tidak diperkenankan untuk membaca atau berbicara didalam bait Allah,
tetapi mereka dapat duduk dan mendengarkan di tempat yang di khususkan untuk
wanita. Hanya dalam rumah-rumah ibadah yang menjalankan dasar-dasar Hellenistik
para wanita diizinkan untuk masuk.
Bait Allah orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus, menekankan tata
cara tentang laki-laki dan perempuan secara jelas di dalam kegiatan-kegiatan
agama mereka. Ada enam halaman dan ruangan-ruagan yang terpisah:
1)
Di
paling luar adalah halaman orang asing dan orang kafir
2)
Halaman
berikutnya tidak boleh dimasuki oleh orang kafir, hukuman bagi pelanggar adalah
kematian. Ini terdiri dari dua bagian:
3)
Halaman
yang khusus dipakai oleh wanita dan halaman orang Israel yang khusus dipakai
oleh orang laki yahudi
4)
Pelataran
( halaman ) yang menuju ke ruangan suci. Yang diperbolehkan masuk adalah Imam
saja
5)
Ruang
Suci da
6)
Ruang
Maha Suci
Namun gambaran
yang berbeda di bukukan oleh pelayanan
dari Yesus. Lukas 8:1-3 menunjukkan bahwa yesus mengijinkan beberapa wanita untuk menjadi teman
seperjalanannya. Ia memberi semangat
pada Martha dan Maria untuk duduk pada kakinya sebagai murid-muridnya(
Luk 10:39-42). Penghargaan yesus pada wanita adalah sesuatu yang baru dan
sangat menyolok dan sangat berbeda dari perlakuan orang-orang Farisi dan
Saduki.
B.
Perempuan dalam Perspektif Teolog Kristen
Agama kristen menganggap
perempuan adalah sumber dari kejahatan.
Mereka mempercayai bahwa setiap perempuan bersalah melakukan dosa dosa besar
asal dan dia bertanggung jawab atas pengusiran adam dari syurga.
Tertulian mengatakan bahwa kaum
perempuan adalah pasangan dari Lucifer (iblis). Bukankah perempuan mentaati
setan dan menentang Tuhan, yang dikarenakan adam diajak oleh hawa untuk memakan
buah terlarang, maka dari itu Tertullian
berasumsi perempuan adalah setan.
Dan Paulus secara tegas menganjurkan beberapa
hal berikut untuk kaum perempuan :
``perempuan
kalian tidak boleh berbicara di dalam Gereja, karena mereka tidak berhak
berbicara jika mereka ingin belajar, kalau perlu mereka harus bertanya kepada suaminya``. Hal ini berarti bahwa kaum
perempuan tidak berhak untuk bersuara didalam Gereja.[2]
Selama seratus tahun Masyarakat
yahudi selalu menindas perempuan. Perempuan seringkali diperlakukan secara tidak manusiawi. Banyak
hak-hak perempuan yang terampas, termasuk hak untuk memperoleh pendidikan ekonomi dan lain lain. Ditengah kehidupan
peempuan yang terpuruk, Yesus kristus hadir dan melakukan beragam transformasi
sosial pada kehidupan perempuan .
Yesus kristus misalnya, melakukan
tindakan-tindakan progresif dan bahkan revolusioner dalam mengangkat martabat
perempuan. Ketika masyarakat pada umumnya memarginalisasikan dan menindas hak perempuan, yesus justru
sebaliknya memperkenalkan ajaran-ajaran
yang dianggap bertentangan dengan nila-nilai yang berlaku saat ini.
Strategi reformis yesus kristus dengan
cara memperkenalkan gagasan-gagasan dan
norma-norma baru dan membuang kebiasaan kebiasaan lama yang mensubordinasikan perempuan,
merupakan perilaku yang yang perlu di teladani oleh umat kristiani.
Yesus juga mengajarkan
bagaimana seorang laki-laki harus memperlakukan isrtinya. Konsep suami harus
menyayangi isrtinya dan memperlakukan istrinya secara baik juga sebenarnya
dianjurkah oleh yesus kristus.
Selain melalui contoh –contoh dan teladan
yang baik terkait penghargaan terhadap perempuan, yesus juga
menggunakan media khutbah untuk
mendorong transformasi sosial di masyarakat Israel. Yesus pernah dua kali menggunakan perempuan sebagai perumpamaan
dalam khutbah yang disam paikannya. Pertama ketika ia ingin menceritakan
kedermawanan seorang janda, Sarfat, untuk mengkritik para lelaki di kota
Nazaret yang terkenal pelit ( Lukas 4: 25-26). Kedua ia menceritakan Ratu Sheba yang datang dari selatan (Arabia)
untuk mendengarkan hikmat nabi sulaeman dan kemudian meyakininya.
Perubahan yang paling
revolusioner adalah upaya Yesus untuk meningkatkan pengetahuan perempuan dibuktikan dengan transfer pengetahuan
keagamaan yang dilakukannya dirumah
Maria adan Martha (Lukas 10: 38-42) sebuah tindakan revolusioner karena saat
itu perempuan dianggap memiliki intelektual
yang rendah sehingga tidak akan mampu menangkap dan memahami pesan-pesan
agama.
C.
Partisipasi perempuan didalam Gereja
Pada zaman ini wanita menjadi
ternama hanya karena penyimpangan perilaku mereka dalam dunia politik,
masyarakat, atau akibat perbuatan seksual mereka atau karena tindakan mereka yang luar biasa . Dalam dunia
patrialkhal nilai, norma masyarakat dan budaya ditentukan oleh pola tinkah laku
pria, sehingga pria sangat berpengaruh dan wanita cenderung di rendahkan.[3]
Adanya kepentingan antara
laki-laki dan perempuan yang ada itu di bentuk oleh suatu budaya, yang mana
menempatkan system patriarki. Gereja
telah berusaha tidak adanya diskriminasi perempuan akan tetapi fakta sosial yang
ada dalam kehidupan kita adalah adanya diskriminasi antara laki-laki dan
perempuan, akan tetapi dalam perjanjian baru dapat di temui tema-tema yang
menjelaskan perempuan itu makhluk lemah, mudah dikuasai danlebih rendah.[4]
Permasalahan ini menjadi perdebatan
yang sangat panjang sebagian orang berpendapat adanya relasi gender dan
sebagian juga berpendapat adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Menurutnya adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan karena budaya
setempat. Misalkan dalam masyarakat batak masih adanya perbedaan antara
laki-laki dan perempuan. Maskawin seolah-olah perempuan itu di beli dan menjadi
marga suaminya. Faktor budaya batak juga mempengaruhi seorang perempuan yang
ingin menjadi pendeta.
[1]
Fatimah Umar Nasif, Menggugat Sejarah Perempuan, (Jakarta: Cendikia Sentra
Muslim, 2001 ), hlm 46-47
[2]
Fatimah Umar Nasif, Menggugah sejarah
perempuan, ( Jakarta: Cendikia Sentra Muslim, 2001), hlm. 48
[3]
Elizabeth Moltman Wendel,pembebasan kesetaraan persaudarian:Emansipasi
Wanitadalam Gereja dan Masyarakat, jakarta, gunung Mulia,1995,hlm, 1-3
[4]
Kantherine Doop Sakenfeld, Beberapa pendekatan Feminis terhadap Kitab suci, dalam
perempuan dan kitan suci. Ed, letty M. Russel, (Jakarta:BPK Gunung Mulia,
1998), hlm 53
Tidak ada komentar:
Posting Komentar