Minggu, 03 Januari 2016

RESPONDING PAPER RELASI GENSER DALAM AGAMA KRISTEN NITA NURNINGSIH 1113034000144

RESPONDING PAPER
                                   RELASI GENDER DALAM AGAMA KRISTEN
NITA NURNNGSIH
1113034000144
A.    Status perempuan dalam ritual-ritual dan kehidupan sosial dalam Perjanjian Baru
             Agama kristen tidak melindungi kaum perempuan dari tindak kezaliman kaum lelaki, mereka tidak melepaskan perempuan dari otoritas lelaki. Agama kristen lebih memaksakan kaum perempuan agar tunduk dan patuh kepada lelaki secara mutlak. Didalam surat paulus berkata, ``wahai para istri, patuhlah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah pemimpin istrinya sebagaimana Kristus adalah pemimpin gereja``. Maksud dari perkataan paulus ini bahkan lelaki adalah pemimpin untuk para kaum perempuan, maka dari itu mereka harus tunduk terhadapnya.[1]
             Partisipasi perempuan dalam bidang keagamaan dikisahkan dalam perjanjian baru. Maria maghdalena adalah satu satunya perempuany yang disebutkan di keempat injil, selai sang perawan maria. Ia muncul pertama kalinya selama pelayanan yesus di Galilea. Dia juga orang pertama yang menjadi saksi dari kebangkitan Yesus dari kuburnya sebagaimana diakui oleh keempat Injil. Namun, sebagian Feminis Kristiani menyebutkan bahwa Geraja selama ini tidak berlaku adil padanya karena perannya sebagai orang terdekat Yesus dimarjinalisasikan.
Ada daerah khusus dekenal didalam Rumah Allah dengan nama ``Halaman Wanita``, karena wanita-wanita tidak deperkenankan masuk kedalam halaman Bait Allah.
Dari sumber-sumber yang khusus, diceritakan pada kita bahwa wanita wanita tidak diperkenankan untuk membaca atau berbicara didalam bait Allah, tetapi mereka dapat duduk dan mendengarkan di tempat yang di khususkan untuk wanita. Hanya dalam rumah-rumah ibadah yang menjalankan dasar-dasar Hellenistik para wanita diizinkan untuk masuk.
Bait Allah orang Yahudi pada zaman Tuhan Yesus, menekankan tata cara tentang laki-laki dan perempuan secara jelas di dalam kegiatan-kegiatan agama mereka. Ada enam halaman dan ruangan-ruagan yang terpisah:
1)      Di paling luar adalah halaman orang asing dan orang kafir
2)      Halaman berikutnya tidak boleh dimasuki oleh orang kafir, hukuman bagi pelanggar adalah kematian. Ini terdiri dari dua bagian:
3)      Halaman yang khusus dipakai oleh wanita dan halaman orang Israel yang khusus dipakai oleh orang laki yahudi
4)      Pelataran ( halaman ) yang menuju ke ruangan suci. Yang diperbolehkan masuk adalah Imam saja
5)      Ruang Suci da
6)      Ruang Maha Suci
               Namun gambaran yang berbeda di bukukan oleh pelayanan  dari Yesus. Lukas 8:1-3 menunjukkan bahwa yesus mengijinkan  beberapa wanita untuk menjadi teman seperjalanannya. Ia memberi semangat  pada Martha dan Maria untuk duduk pada kakinya sebagai murid-muridnya( Luk 10:39-42). Penghargaan yesus pada wanita adalah sesuatu yang baru dan sangat menyolok dan sangat berbeda dari perlakuan orang-orang Farisi dan Saduki.

B.     Perempuan dalam Perspektif Teolog Kristen
              Agama kristen menganggap perempuan  adalah sumber dari kejahatan. Mereka mempercayai bahwa setiap perempuan bersalah melakukan dosa dosa besar asal dan dia bertanggung jawab atas pengusiran adam dari syurga.
           Tertulian mengatakan bahwa kaum perempuan adalah pasangan dari Lucifer (iblis). Bukankah perempuan mentaati setan dan menentang Tuhan, yang dikarenakan adam diajak oleh hawa untuk memakan buah terlarang, maka dari itu Tertullian  berasumsi perempuan adalah setan.
 Dan Paulus secara tegas menganjurkan beberapa hal berikut untuk kaum perempuan :
``perempuan kalian tidak boleh berbicara di dalam Gereja, karena mereka tidak berhak berbicara jika mereka ingin belajar, kalau perlu mereka harus bertanya kepada  suaminya``. Hal ini berarti bahwa kaum perempuan tidak berhak untuk bersuara didalam Gereja.[2]
            Selama seratus tahun Masyarakat yahudi selalu menindas perempuan. Perempuan seringkali  diperlakukan secara tidak manusiawi. Banyak hak-hak perempuan yang terampas, termasuk hak untuk memperoleh pendidikan  ekonomi dan lain lain. Ditengah kehidupan peempuan yang terpuruk, Yesus kristus hadir dan melakukan beragam transformasi sosial pada kehidupan perempuan .
             Yesus kristus misalnya, melakukan tindakan-tindakan progresif dan bahkan revolusioner dalam mengangkat martabat perempuan. Ketika masyarakat pada umumnya memarginalisasikan  dan menindas hak perempuan, yesus justru sebaliknya memperkenalkan ajaran-ajaran  yang dianggap bertentangan dengan nila-nilai yang berlaku saat ini. Strategi reformis  yesus kristus dengan cara memperkenalkan gagasan-gagasan  dan norma-norma baru dan membuang kebiasaan kebiasaan  lama yang mensubordinasikan perempuan, merupakan perilaku yang yang perlu di teladani oleh umat kristiani.
                Yesus juga mengajarkan bagaimana seorang laki-laki harus memperlakukan isrtinya. Konsep suami harus menyayangi isrtinya dan memperlakukan istrinya secara baik juga sebenarnya dianjurkah oleh yesus kristus.
             Selain melalui contoh –contoh  dan teladan  yang baik terkait penghargaan terhadap perempuan, yesus juga menggunakan  media khutbah untuk mendorong transformasi sosial di masyarakat Israel. Yesus pernah dua kali  menggunakan perempuan sebagai perumpamaan dalam khutbah yang disam paikannya. Pertama ketika ia ingin menceritakan kedermawanan seorang janda, Sarfat, untuk mengkritik para lelaki di kota Nazaret yang terkenal pelit ( Lukas 4: 25-26). Kedua ia menceritakan  Ratu Sheba yang datang dari selatan (Arabia) untuk mendengarkan hikmat nabi sulaeman dan kemudian meyakininya.
              Perubahan yang paling revolusioner adalah upaya Yesus untuk meningkatkan pengetahuan perempuan  dibuktikan dengan transfer pengetahuan keagamaan  yang dilakukannya dirumah Maria adan Martha (Lukas 10: 38-42) sebuah tindakan revolusioner karena saat itu perempuan dianggap memiliki intelektual  yang rendah sehingga tidak akan mampu menangkap dan memahami pesan-pesan agama.

C.    Partisipasi perempuan didalam Gereja
            Pada zaman ini wanita menjadi ternama hanya karena penyimpangan perilaku mereka dalam dunia politik, masyarakat, atau akibat perbuatan seksual mereka atau karena tindakan  mereka yang luar biasa . Dalam dunia patrialkhal nilai, norma masyarakat dan budaya ditentukan oleh pola tinkah laku pria, sehingga pria sangat berpengaruh dan wanita cenderung di rendahkan.[3]
             Adanya kepentingan antara laki-laki dan perempuan yang ada itu di bentuk oleh suatu budaya, yang mana menempatkan  system patriarki. Gereja telah berusaha tidak adanya diskriminasi perempuan akan tetapi fakta sosial yang ada dalam kehidupan kita adalah adanya diskriminasi antara laki-laki dan perempuan, akan tetapi dalam perjanjian baru dapat di temui tema-tema yang menjelaskan perempuan itu makhluk lemah, mudah dikuasai danlebih rendah.[4]
              Permasalahan ini menjadi perdebatan yang sangat panjang sebagian orang berpendapat adanya relasi gender dan sebagian juga berpendapat adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Menurutnya adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan karena budaya setempat. Misalkan dalam masyarakat batak masih adanya perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Maskawin seolah-olah perempuan itu di beli dan menjadi marga suaminya. Faktor budaya batak juga mempengaruhi seorang perempuan yang ingin menjadi pendeta.



[1] Fatimah Umar Nasif, Menggugat Sejarah Perempuan, (Jakarta: Cendikia Sentra Muslim, 2001 ), hlm 46-47
[2] Fatimah Umar Nasif, Menggugah  sejarah perempuan, ( Jakarta: Cendikia Sentra Muslim, 2001), hlm. 48
[3] Elizabeth Moltman Wendel,pembebasan kesetaraan persaudarian:Emansipasi Wanitadalam Gereja dan Masyarakat, jakarta, gunung Mulia,1995,hlm, 1-3
[4] Kantherine Doop Sakenfeld, Beberapa pendekatan Feminis terhadap Kitab suci, dalam perempuan dan kitan suci. Ed, letty M. Russel, (Jakarta:BPK Gunung Mulia, 1998), hlm 53

Tidak ada komentar:

Posting Komentar